Kata itu terlontar spontan dari suamiku. Komentar saat aku hanya adem ayem menanggapi kata-katanya yang mesra di sela kesibukanku.
Ketika masih lajang aku selalu menyukai semua hal yang berbau romantis. Semuanya, bacaan ataupun tontonan yang romantis selalu dengan penuh semangat kunikmati. Bahkan aku bisa menghabiskan waktu dengan tidak tidur hanya untuk menyelesaikan satu buku tebal, yang menurutku sangat romantis isinya. Sayang kalau terpotong, selain tentunya rasa penasaran akan ending-nya.
Bayangan memiliki suami yang romantis pun lekat di benak. Dia harus begini. Dia akan begitu, dia akan begini. Semua mimpi itu. Mimpiku akan sosok Sang Pangeran. Sekarang, mengenangnya aku jadi malu. Aku merasa konyol ketika mengingat betapa menggebu dan hausnya aku akan sebentuk keromantisan. Betapa tidak pada tempatnya untuk menikmati suatu keromantisan yang tidak semestinya. Betapa seringkali aku menjadi tidak membumi dengan semua keromantisan itu. …baca lengkapnya…
