Ketika saya belum menikah, menjadi seorang ibu adalah tidak pernah terbayangkan. bukan berarti saya tidak ada keinginan untuk menjadi seorang ibu. Justru karena saya merasa betapa kompleks dan sulitnya hal tersebut. Saya membaca buku-buku psikologi anak dan menyadari betapa sikap dan langkah orangtua teramat sangat membentuk jiwa sang anak. Saya ragu apakah saya mampu. Saya takut. Takut tidak mampu mengemban tanggungjawab besar itu.
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi.” (HR. Bukhari)
Ada pepatah Jerman yang juga mengatakan Eltern werden ist einfach, Eltern zu sein ist schwierig. menjadi orangtua adalah mudah, tapi berperan sebagai orangtua adalah lebih sulit. duh makin takut saya jadinya.
Tidak mudah memang menjadi orangtua atau ibu yang baik. Tapi saya tau saya harus mampu melakukannya. Bagi sang anak. Saya sebagai ibu, yang akan menjadi madrasah pertama anak. Saya, ibunya yang akan sangat mempengaruhi perkembangan dan bagaimana kelak dia.
Lalu..
Alhamdulillah lahir lah anak saya yang pertama. Dan bukannya tanpa rencana. Perlu waktu sekitar satu tahun sampai akhirnya saya dan suami merasa kami cukup siap mengemban amanah itu.Kami persiapkan semuanya dan berserah kepada Yang Maha Memiliki Kuasa. KAmi yakin hanya Dia-lah yang bisa menilai kami siap atau tidak menerima amanah-Nya. Maka program Kinderwunsch/untuk hamil, kami jalani.
Sejuta perasaan hadir kala dia lahir. Saya sempat terkena postpartum sindrom. Menjadi ‘blue’ selama minggu-minggu melahirkan. Melihat bayi saya, maka menangislah saya. perasaan bahagia, takjub, senang, juga sedih, takut dan gamang. terlebih sejuta perasaan berkecamuk kala teringat ibu saya.
Menjadi seorang ibu membuat saya belajar banyak, juga menjadi sosok pribadi yang lebih arif. Setidaknya begitu penilaian saya.
Saya banyak bertanya pada teman-teman yang -menurut saya- sukses mendidik anak mereka. Juga berbagi pengalaman dengan sesama ibu, memperbanyak bacaan tentang pendidikan anak. Milist-milist ibu juga anak tak ketinggalan saya ikutin. Apalagi ketika saya menganggap pelik permasalahan yang saya jumpai.
Satu yang paling mengingatkan tetapi juga meneguhkan hati saya, seorang teman mengatakan, jangan pernah lupa doa pada Sang Pemilik. Menegur saya di sela semua usaha duniawi saya.
Saya mengalami, sungguh usaha saja tidak akan cukup. Benar kekuatan dan energi ibu adalah dari doa. Usaha kita hanya seperkian. Percayalah..semua terjadi atas kehendak Allah. Dia-lah penentu segalanya. Bukan hanya karena kita sang anak menjadi sukses atau sholeh atau pintar dan sebagainya.
Jangan pernah kebanggaan membuat menjadi sombong. seakan karena usaha kita lah anak menjadi seperti yang ktia banggakan. Kebanggaan berlebihan, sehingga timbul rasa sombong…yang bisa-bisa melupakan suatu atribut lain yang Maha. Kebanggaan yang jangan sampai membawa ke arah sombong. Astaghfirullah al adhziem.
Ingat..kalau bukan atas ridho Allah, tak akan mampu anak kita menjadi yang kita banggakan, tak akan mampu anak kita mengingat semua hapalan yang kita berikan. membaca buku yang ktia ajarkan. Berbicara seperti yang ktia contohkan. Tak akan jadi anak kita pintar, sehat…seberapapun usaha kita lakukan kalau Allah tidak mengijinkan.
Kalaupun banyak kelebihan pada anak kita, itu karuniaNya. Saat anak menjadi cepat menyerap ajaran yang ktia berikan, bersyukurlah, Allah memudahkan kita. Pun ketika kesusahan terjadi, untuk mengingatkan, bukan kita yang paling bisa, bukan kita yang serba paling. Ketika kita bercerita soal kelebihan, kebisaan anak kita, cobalah jauhkan rasa bangga ke-aku-an yang berlebihan, kembalikan semua syukur pada Sang Maha Pemberi.
Bersyukur..tidak hanya sekedar ungkapan terimakasih kita pada sang Pencipta di dalam hati, lisan dan perbuatan. Tapi juga keyakinan yang betul-betul menyakini bahwa semuanya karena yang Maha Kuasa. Bahwa porsi usaha kita hanya kecil.
Pun ketika kesulitan dan masalah-masalah menjelang. Kekuatan doa yang akan mampu membuat kita kembali tegak. menata hati, juga energi kita dalam mendidik buah hati kita. Sehingga lebih jernih kita melihat persoalan.
Mari kita temui Allah di malam-malam panjang kita. Kita kembalikan semuanya. Kita syukuri semua kelebihan ynag sudah Dia berikan, kita adukan semua kesulitan dan kesusahan kita, membesarkan dan mendidik titipanNya. Ketika terasa begitu menghimpit semua persoalan anak-anak kita. Adukan semuanya, beberkan, tumpahkan semuanya. Dia satu-satunya Maha Penolong.
Sungguh, ketika saya melakukannya, rasa takut, rasa ragu -apakah sudah melakukan yang terbaik bagi anak saya- sirna. saya pasrahkan semuanya pada Yang Maha Tahu. Saya minta petunjukNya. Engkau, Sang Pemilik Ya Rabbi.
Kita harus mengupayakan dan berusaha sekuat kemampuan kita serta tidak melupakan porsi besar doa. Karena Allah jualah Sang Penentu.
—
tuk teman saya itu..jazakillah khoir sudah mengingatkan.
