SIRAH NABAWIYYAH
(DR. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy)
MUQADDIMAH
Pentingnya Sirah Nabawiyah untuk memahami Islam
Tujuan dalam mengkaji Sirah Nabawiyah ialah agar setiap muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna, yang tercermin didalam kehidupan nabi Muhammad saw, setelah dipahami secara konsepsional sebagai prinsip, kaidah dan hukum.
Yang dapat diperinci sbb:
1. Memahami kepribadian Rasulullah saw, bukan hanya sebagai genial diantara kaumnya, tetapi sebelum itu beliau adalah seorang Rasul yang didukung oleh Allah dengan wahyu dan taufiq dari-Nya
2. Agar manusia mendapatkan gambaran al-Matsal al A’la (tipe yang ideal) menyangkut seluruh kehidupan yang utama untuk dijadikan undang-undang dan pedoman kehidupannya. (QS. Al Ahzab:21)
3. Agar manusia memahami Kitabullah dan semangat tujuannya, karena banyak ayat-ayat Al Qur’an yang baru bisa ditafsirkan dan dijelaskan maksudnya melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dihadapi Rasulullah saw dan disikapinya
4. Dengan mengkaji Sirah Nabawiyah, maka seorang muslim mendapatkan banyak tsaqofah dan pengetahuan islam yang benar, baik yang menyangkut aqidah, hukum ataupun akhlaq
5. Agar setiap pembina dan da’i Islam mendapatkan contoh hidup menyangkut cara-cara pembinaan dan da’wah
Oleh karena itu kajian Sirah Nabawiyah ini tidak lain hanya menampakkan aspek-aspek kemanusiaan ini secara eseluruhan yang tercermin dalam suri tauladan yang paling sempurna dan terbaik.
Sumber-Sumber Sirah Nabawiyah
1. Kitab Allah
Merupakan rujukan pertama dalam memahami sifat-sifat umum Rasulullah saw dan mengenal tahap-tahap umum dari sirah, dengan cara penyampaian sbb:
- Mengemukakan sebagian kejadian dari kehidupan dan sirahnya, cont: ayat-ayat yg menjelaskan ttg perang Badar, Uhud, Khandaq dan Hunain, serta pernikahan beliau dgn Zainab binti Jahsyi
- Mengomentari kasus-kasus dan peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk menjawab masalah-masalah yang timbul atau mengungkapkan masalah yg belum jelas.
Akan tetapi pembahasan tsbt di dalam Al Qur’an disampaikan secara terputus-putus dan disajikan secara global serta sekilas tentang beberapa peristiwa dan berita
2. Sunnah Nabawiyah yang shahih
Seperti yang terkandung dalam kitab-kitab hadist yang enam, Muwaththa’ Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad. Namun belum tersusun secara urut dan sistematis dalam memberikan gambaran kehidupan Rasulullah saw sejak lahir hingga wafat. Hal ini dikarenakan:
- Pembahasan berdasarkan bab-bab Fiqh atau sesuai dgn satuan pembahasan yang berkaitan dgn syari’at Islam
- Para Imam hadist, khususnya al Kutub as-Sittah, ketika menghimpun hadist-hadist Rasulullah saw tidak mencatat riwayat sirahnya secara terpisah tetapi hanya mencatat dalil-dalil syari’ah secara umum yang diperlukan
Keistimewaan sumber kedua ini adalah, bahwa sebagian besar isinya diriwayatkan dengan sanad shahih yang bersambung kepada Rasulullah saw atau para sahabat yang merupakan sumber yang manqul, walaupun adapula yang dhaif yang tidak dapat dijadikan hujjah.
3. Kitab-kitab Sirah
Kajian sirah dimasa lalu diambil dari riwayat-riwayat pada masa sahabat yang disampaikan secara turun temurun tanpa ada yg memperhatikan untuk menyusun/ menghimpunnya dalam satu kitab.
Baru pada masa tabi’in sirah Nabawiyah disusun, diantaranya oleh Urwah bin Zubair, Aban bin Ustman, Syurahbil bin Sa’d, Wahab bin Munabbih dan Ibnu Syihab az-Zuhri. Akan tetapi semua yang mereka tulis ini lenyap, kecuali beberapa bagian yang sempat diriwayatkan oleh Imam ath-Thabari. Ada yg mengatakan, bahwa sebagian tulisan Wahab bin Munabbih sampai sekarang masih tersimpan di Heidelberg, German.
Kemudian muncul tokoh berikutnya, yaitu Muhammad bin Ishaq dengan kitabnya al-Maghazi, Al-waqidi dan Muhammad bin Sa’d, penyusun kitab Ath-Thabaqat al Kubra. Kitab al-Maghazi ini merupakan data yg paling terpercaya, namun kitab ini turut pula musnah pada masa itu.
Kemudian muncul Abu Muhammad Abdu’l Malik (Abu Hisyam), setengah abad setelah Ibnu Ishaq, yang menyempurnakan dan meringkas kitab al-Maghazi karangan Ibnu Ishaq tsbt.
Rahasia dipilihnya Jazirah Arab sebagai tempat kelahiran dan pertumbuhan Islam
1. Kondisi umat-umat yang hidup di sekitar jazirah Arab sebelum Islam
Saat itu dunia dikuasai oleh 2 negara adidaya: Persia dan Romawi, kemudian menyusul India dan Yunani. Dimana pada saat itu negara-negara tsbt berada dalam puncak kebejatan baik dari segi moral/akhlaq dan agama, cont: Persia dgn filsafat Zoroaster, Romawi dgn semangat kolonialismenya.
Sedangkan Jazirah Arab pada masa itu jauh dari kegoncangan tsbt. Mereka tidak memiliki kemewahan, peradaban, kekuatan militer dan juga filosofi sebagaimana negara-negara disekitarnya. Mereka hidup didalam kegelapan, kebodohan dan alam fitrah yang pertama, Akibatnya, mereka sesat dan tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan. Membunuh anak dgn dalih kemuliaan dan kesucian, memusnahkan harta dgn dalih kedermawanan dan berperang diantara mereka dgn dalih harga diri dan kepahlawanan. (QS Al Baqarah:198)
2. Terletak ditengah-tengah umat yang ada pergolakan diantara 2 peradaban, yaitu: Barat, dengan materilaitisnya dan Timur dengan spiritualismenya sebagaiman yg telah dijelaskan diatas.
Sehingga orang-orang yang hidup “dimasa pencarian” tidak akan mengingkari kebodohannya dan tidak akan membanggakan peradaban dan kebudayaan yang tidak dimilikinya. Oleh karena itu lebih mudah disembuhkan dan diarahkan.
3. Nabi yang ummi, tidak bisa membaca dan menulis, agar manusia tidak ragu akan kenabiannya dan kebenaran da’wahnya. Adalah kesempurnaan hikmah Ilahiyah, jika bi’ah (lingkungan) tempat diutusnya Rasulullah dijadikan juga sbg bi’ah ummiyah (lingkungan yang ummi), bila dibandingkan dgn umat-umat lain yang ada disekitarnya; yakni tidak terjangkau sama sekali oleh peradaban-peradaban tetangganya. Seperti halnya akan timbul keraguan di dada manusia apabila Rasulullah saw adalah orang yang terpelajar dan pandai bergaul dgn kitab-kitab, sejarah umat-umat terdahulu dan semua peradaban negara-negara di sekitarnya. (QS.Al Jumuáh:2)
4. Baitul Haram merupakan tempat berkumpulnya manusia (QS. Al Baqarah:125) dan rumah pertama yang dibangun bagi manusia untuk beribadah, terletak di Jazirah Arab
5. Secara Geografis sangat kondusif untuk mengemban da´wah, sehingga mempermudah penyebaran Islam
6. Bahasa Arab memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya

pleass send me artikel or story, be cause i am interesting with siroh
Comment by danil — September 24, 2005 @ 4:00 am
i want to see all siroh nabawiyah
Comment by reza — November 22, 2006 @ 1:04 pm
I am interesting with siroh islam. I wont to know Rosullah Muhammad more. please send me artikel or story anythink abauot him. thank you
Comment by Puspa Sari Rahayu — January 22, 2007 @ 7:49 am
assalamualaikum
tulisan pada “Rahasia dipilihnya Jazirah Arab sebagai tempat kelahiran dan pertumbuhan Islam” itu pendapat anda? atau dapat dari mana?
terimakasih
Comment by dhimas — April 15, 2007 @ 9:24 pm
Salam. if u dont mind, send me a massage about siroh, taujih, or video about islam. Thanks before…. Wassalam
Comment by Faizal — April 17, 2007 @ 2:44 am
Aslmkm wr wbt. Saya amat berminat tentang sirah nabawiyah. Boleh tolong send kan artikel tentang Nabi Muhammad S.A.W. Terima kasih
Comment by Nor Mustaqimah — May 9, 2007 @ 2:07 pm
ass wr wb.saya sangat tertarik dgn siroh nabawiyah. ingin beli bknya tapi gak pny uang.artikel ttg nabi dan sejarah atau latar blkng perang pd masa nabi.apa benar seperti kajian dari lutfie assyaukani bahwa perang yg dilakukan juga merupakan impuls duniawi seperti harta rampasan,perbudakan dan wanita?
Comment by juliana.sitepu — June 5, 2007 @ 6:40 am
assalammualaikum…sy pernah terdengar tentang penyelewengan sirah yang kita baca dan pelajari sehari-harian?benarkah?kalu tidak kenapa cerita yang disampaikan byk perbezaan?blh bg sy maklumat dan fakta yang sebenarnya?
Comment by siti aisyah — November 7, 2007 @ 3:05 pm
assalamualaikum. tolong kasih tau dong, buku atau apalah yang bisa menjelaskan panjang lebar dan sejelas-jelasnya tentang sirah nabawiyah, tidak hanya tentang riwayat hidup nabi tp juga cara pemerintahannya juga yang lain. saya tertarik untk mempelajarinya. terimakasih
Comment by adian — March 2, 2008 @ 8:38 am
Assalamu’alaikum Wr. Wb wahai saudaraku seiman dalam Islam bangunlah dari tidurmu hari hisab semakin dekat dan penghisaban Alloh maha dahsyat dapatkah kita menghindarinya? maka mari sama - sama kita jaga lisan, pendengaran, pandangan serta langkah kaki kita mau kemana kita bawa?
Comment by Rasyad Hermawan — April 22, 2009 @ 9:56 am
SIRAH NABAWIYAH
REKAMAN PERISTIWA AJAKAN DAKWAH KEPADA KELUARGA DEKAT
PENENTANGAN ABU LAHAB,
BADAI MENERPA KEJANTUNG RUMAH TANGGA
I. MUQADDIMAH.
Segala puji hanyak milik Allah SWT. Sholawat dan salam kepada Nabi kita Nabi besar Muhammad Saw, serta keluarga dan para sahabat. Amin Yaa Robbal ‘Alamiin. Muhammad, sebanyak apapun pujian yang kita tujukan kepadanya, maka sebenarnya itu hanyalah memperbanyak pujian terhadap kemanusiaan hakiki, yang dalam sepanjang perjalanannya belum pernah melihat satu makhluk pun yang bisa membuktikannya, kecuali Nabi Muhammad SAW. Siapapun yang mengenal beliau, maka ia akan mengenal semua kebaikan, kebenaran dan keindahan kepribadian beliau SAW.
II. PEMBAHASAN
Berdakwah Di Kalangan Kaum Kerabat.
Ketika Allah berfirman dalam Al-Qur’an,yaitu:
وأنذر عشرتك الأاقربين
Artinya: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” (QS. As-Syu’ara: 214)
Ayat tersebut diatas memerintahkan kepada Rasulullah SAW agar berdakwah secara terang-terangan dan mengingatkan keluarga dekatnya. Dan ketika Nabi melakukan hal tersebut maka dakwah memasuki fase yang kedua.
Abu Hurairah meriwayatkan, ketika ayat diatas turun, Rasulullah Saw berdiri kemudian berkata: “Hai orang-orang Quraisy, Hai Bani ‘Abdul Muthalib, Hai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib, Hai Shafiyyah, bibi Rasul Allah, di hadapan Allah aku tidak berguna bagi kalian…….Hai Fatimah binti Rasul Allah, engkau bisa meminta harta kepadaku, tetapi di hadapan Allah aku tidak berguna bagimu”.
Kemudian Ibnu Atsir meriwayatkan, bahwa Ja’far bin ‘Abdullah bin Abil-Hakim berkata: “Setelah Rasulullah menerima wahyu “……..dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat…..”,Rasulullah sangat gelisah, beliau tinggal dirumah seperti orang sakit. Kemudian bibi beliau datang menjenguk. Saat itu beliau berkata kepada mereka: “Aku tidak sakit……hanya Allah memerintahkan aku supaya memberi peringatan kepada kaum kerabatku. “Mereka menjawab: “Ajaklah mereka memeluk ajaran islam, tetapi janganlah engkau mengajak Abu Lahab, sebab dia tidak akan menyambut baik ajakanmu.”
Kemudian Rasulullah SAW mengundang mereka datang kerumah. Datanglah empat puluh lima orang, memenuhi undangan beliau termasuk di antaranya beberapa orang dari Bani ‘Abdul Muthalib bin ‘Abdul Manaf. Abu Lahab yang saat itu turut hadir, berkata; “Hai Muhammad, mereka itu adalah para pamanmu, dan anak-anak dari pamanmu, bicaralah dan jangan engkau bermain-main! Ketahuilah, bahwa kaum kerabatmu tidak mempunyai kekuasaan terhadap seluruh bangsa Arab. Aku berhak menentangmu, cukuplah bagimu perlindungan dari sanak family ayahmu! Jika engkau terus menerus berbuat seperti yang engkau lakukan itu, mereka akan lebih mudah menyerangmu dari pada suku-suku kabilah Quraisy lainnya, dan pasti akan dibantu oleh seluruh orang Arab. Sesungguhnya aku tidak pernah melihat ada seseorang yang datang membawa bencana seperti yang engkau bawa itu!”
Ketika Rasulullah Saw bersabda kepada kaum kerabatnya, “Seorang utusan tidak akan membohongi keluarganya. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, bahwa aku adalah utusan Allah, khususnya kepada kalian dan kepada semua manusia pada umumnya. Demi Allah kalian pasti akan mati seperti disaat kalian tidur, dan kalian pasti akan dihidupkan kembali seperti disaat kalian bangun tidur. Terhadap kalian pasti akan diadakan perhitungan mengenai apa yang telah kalian perbuat. Kemudian tidak akan ada tempat lain kecuali syurga yang kekal selama-lamanya, atau neraka yang juga kekal selama-lamanya…..”
Abu Thalib pun berkata: “Dengan senang hati kami bersedia membantumu, kami terima apa yang kau berikan sebagai nasehat, dan kamipun mempercayai segala tutur katamu! Mereka yang sekarang berkumpul itu adalah sanak family ayahmu dan aku hanyalah seoarang dari mereka…..tetapi justru akulah yang paling cepat mrnyambut keinginanmu. Jalankan terus apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku akan tetap melindungi dan membantumu, tetapi aku sendiri tidak dapat meninggalkan agama “Abdul Muthalib!” Abu Lahab berkata: “Demi Allah, itu sikap yang sangat buruk! Cegahlah dia (Muhammad) sebelum orang-orang lain bertindak terhadap kalian!” Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, sungguh selama kami masih hidup, kami akan membelanya”.
Nabi Muhammad Saw selalu mengajak pamannya untuk meninggalkan “agama” nenek moyangnya, akan tetapi Abu Thalib tetap teguh dengan pendiriannya.
Ibnu Ishaq meriwayatkan jika telah menjelang waktu sholat, beliau keluar ke pinggiran kota Mekkah beserta Ali bin Abi Thalib dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh Abu Thalib, para paman, dan ketua Quraisy. Ditempat yang jauh dari kota itu, beliau mengerjakan sholat bersama Ali, dan pada petang harinya beliau berdua kembali kerumah. Demikianlah terus-menerus sampai beberapa waktu lamanya.
Pada suatu hari Abu Thalib mengetahui mereka berdua sedang mengerjakan sholat, Abu Thalib bertanya kepada Nabi Saw, “Hai anak laki-laki saudaraku,agama apakah itu yang aku lihat engkau mengikutinya?”. Pada waktu itu Nabi menjawab sambil menyampaikan seruan kepada pamannya yang sangat dicintainya itu dengan suara lembut : “Pamanku, inilah agama Allah, agama Malaikat-Nya, agama para rasul-Nya, dan agama bapak kami, Nabi Ibrahim. Allah menetapkan aku sebagai utusan dengan membawa agama ini kepada segenap hamba-Nya, dan engkau, hai pamanku, orang yang lebih berhak aku beri nasehat untuk mengikutinya dan aku menyerukannya kepada petunjuk itu, dan orang yang lebih berhak melaksanakan seruanku ini kepadanya dan membantu aku dalam menyampaikan seruannya.”
Demikianlah seruan Nabi kepada Abu Thalib. Abu Thalib mendengar seruan yang baik itu menjawab, “Hai anak saudaraku, sesungguhnya aku tidak sanggup berpisah dari agama para orang tuaku yang dahulu dan apa-apa yang telah dilakukan mereka. Sungguhpun demikian, demi Allah, tidak akan ada sesuatu apa pun yang engkau benci yang dapat disampaikan kepadamu selama aku masih ada.”
Selanjutnya Abu Thalib bertanya kepada anaknya, Ali, “Agama apakah yang engkau ikuti wahai anaku?”
Ali menjawab dengan tegas, “Wahai ayah, aku beriman kepada Allah dan kepada utusan Allah, aku membenarkan segala sesuatu yang dibawanya, aku mengerjakan sholat bersama dia kepada Allah, dan mengikut pimpinanya.”
Ketika itu juga Abu Thalib berkata kepada anaknya, “Memang sebenarnya yang diserukannya kepadamu itu tidak lain melainkan seruan kepada kebajikan. Oleh sebab itu, maka tetaplah engkau mengikutinya!
Walaupun Abu Thalib istiqomah dalam kesyirikannya dan berpegang teguh pada “agama” nenek moyangnya, ia sangat menaruh simpati dan memperlihatkan cinta yang sangat mendalam kepada keponakannya, Muhammad SAW. Ia menyadari sepenuhnya kesulitan yang akan dialami bersama keluarganya akibat pembelaan yang diberikannya kepada Nabi Muhammad SAW. Kecintaan dan perlindungan yang diberikan Abu Thalib kepada Nabi Muhammad SAW, dalam menghadapi berbagai macam gangguan, menjamin keleluasaan beliau SAW dalam menjalankan tugas menyampaikan risalah Ilahi
Abu Thalib termasuk tokoh yang sangat berpengaruh dikota Mekkah. Ia dihormati oleh kaum kerabatnya dan dihormati serta disegani pula oleh orang lain. Tidak ada seorang pun yang berani mengganggu orang yang berada di bawah perlindungannya, atau berani meremehkan jaminan keselamatan yang diberikan oleh Abu Thalib.
Sedangkan Abu Lahab adalah seorang yang mencerminkan konsekwensi para kepala kabilah yang secara mati-matian mempertahankan kepentingan dan popularitas, tanpa memperdulikan kebenaran dan kebathilan. Apa saja yang dianggap akan merusak kepentingan mereka, atau menjelekan nama baik mereka, serta membangkitkan emosi mereka, akan mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang sangat tercela.
Abu Lahab adalah seorang paman Rasulullah SAW. Nama lengkapnya Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Nama panggilannya Abu Utaibah. Dinamakan Abu Lahab karena wajahnya yang sangat bercahaya. Dia adalah orang yang paling banyak menyakiti Nabi Muhammad Saw. dan sangat membencinya, menghina dan meremehkannya,dan meremehkan agamanya.
Tabiat bengis yang ada pada diri Abu Lahab selalu mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang rendah. Dua orang anak lelakinya menikah dengan dua orang putri Muhammad SAW, tetapi Abu Lahab memaksa kedua orang anaknya untuk menceraikan istrinya masing-masing. Utbah menceraikan Ruqayyah dan Utaibah menceraikan Ummu Kaltsum.
Besar kemungkinan Abu Lahab terpengaruh oleh kebencian istrinya, Ummu Jamil. Adapun namanya adalah Area bintu Harb bin Umayyah, saudari Abu Sufyan. Dia memberi bantuan kepada suaminya dalam hal melakukan kekufuran dan pembangkangan. Itulah sebabnya dihari kiamat nanti dia pun akan memberikan bantuan kepada suaminya ketika dia disiksa didalam api neraka Jahannam. Itulah sebabnya Allah SWT berfirman,”Pembawa kayu bakar, yang lehernya ada tali dari sabut.”
Diriwayatkan oleh Sa’id bin Musayyab bahwa dia adalah seorang wanita yang mempunyai kalung yang sangat mahal dilehernya. Kemudian dia berkata, “Aku akan mendermakan kalung ini untuk melancarkan permusuhan kepada Muhammad!” Dengan demikian, Allah pun akan memberikan siksaan kepadanya didalam neraka nanti dengan tali dari sabut. Sebagian ulama menafsirkan tentang ayat, “Yang di lehernya terdapat tali sabut,” bahwasanya di neraka Jahannam Allah akan mengalungkan di lehernya sebuah tali dari api yang akan mengangkatnya sampai ke bibir neraka, kemudian dilemparkan ke dasar neraka. Dan demikianlah seterusnya.
Ummul Jamil adalah seorang wanita yang berlidah tajam. Sehingga Ummul Jamil melancarkan berbagai macam celaan terhadap pribadi Nabi Muhammad Saw dan tidak segan-segan mengobral segala macam omongan untuk mendustakan dan menjatuhkan nama baik Nabi Muhammad Saw. Diantara finah yang dilakukan Ummu Jamil kepada Nabi Saw ialah ketika Ummu Jamil mendengar bunyi surah Masad (Surah al-Lahab) yang dibaca oleh seorang sahabat Nabi Saw. Seketika itu juga dia merasa bahwa dirinya dicaci maki dan dihinakan oleh bunyi ayat-ayat yang dibawa oleh Nabi Saw. Karena itu, dia melaporkan hal itu kepada saudara laki-lakinya (Abu Sufyan). Ummu Jamil berkata bahwa Nabi Muhammad Saw telah mencaci maki dan mengata-ngatai dirinya dengan perkataan jelek dan keji. Kemudian Abu Sufyan segera pulang kerumahnya untuk mengambil pedang, dengan pedang yang terhunus Abu Sufyan datang kerumah Nabi Saw dengan niat untuk membunuh Nabi, akan tetapi masih ditengah perjalanan, sekonyong-konyongnya Abu Sufyan ketakutan karena seolah-olah dia melihat ular yang besar mendekati dan ingin menelan dirinya, sehingga dia kembali kerumahnya dengan tergesa-gesa. Dengan demikian, selamatlah Nabi Saw. dari penganiayaan Abu Sufyan karena fitnah dari Ummul Jamil yang jahat itu.
III. KESIMPULAN
Dalam kekeluargaan sejak zaman sebelum islam, hubungan Nabi Muhammad SAW sebelum menjadi Rasul amat baik sekali dengan paman-pamannya termasuk Abu Lahab. Akan tetapi ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi utusan Allah, maka disinilah badai menerpa jantung rumah tangga karena ada yang menerima dan menentang dakwah Rasullah SAW.
REFERENSI
Al-Ghazaly, Muhammad, Fiqhus Suroh, Bandung: PT. ALMA”ARIF, Cet.II
Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurrahman, Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung Muhammad, Jakarta: Darul Haq, Cet.IX, Maret 2007.
Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurrahman, Sirah nabawiyah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet. XIII, Januari 2003.
Bahjat, Ahmad, Sejarah Nabi-Nabi Allah, Jakarta: PT. LENTERA BASRITAMA, Cet.I, Oktober 2001.
K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jakarta: Gema Insani Press, Cet.I, Jil.I, Agustus 2001.
Ramadhan Al-Buthy, Muhammad Said, Sirah Nabawiyah, Jakarta: Robbani Press, Cet.XIII, Maret 2008.
Comment by m ihsan dacholfany — May 18, 2009 @ 6:33 am
Perang Pemikiran
M Ihsan dacholfany (Aby Irsad dan Izzah)
Seorang wanita berjilbab rapi tampak sedang bersemangat mengajarkan
sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di
tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Sang guru
berkata, “Saya punya permainan…
Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada
penghapus.Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur.!”, jika
saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!”
Murid munidnya pun mengerti dan mengikuti. Sang guru berganti-gantian
mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin
cepat. Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata,
“Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah
“Penghapusl” , jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”.
Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, tantu saja munid-munid
kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya. Namun
lambat laun, mereka bisa beradaptasi dan tidak lagi sulit. Selang
beberapa saat, permainan berhenti Sang guru tersenyum kepada murid-
munidnya.
“Anak-anak, begituah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang
bathi! itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian,
musuh musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk
membalik sesuatu, dan yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya.
Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menenima hal tersebut, tapi
karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka,
akhirnya lambat pun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai
mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik
nilai”.
“Pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, zina tidak lagi jadi
persoalan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex before married
menjadi suatu hiburan, berjilbab tapi telanjang jadi mode,
materialistis dan permissive kini menjadi suatu gaya hidup
pilihan,dan lain lain.”
“Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadani, kallan sedikit demi
sedikit menerimanya. Paham?” tanya bu Guru kepada murid-
munidnya. “Paham buu…”
“Baik permainan kedua…”
Begitu Bu Guru melanjutkan. “Bu Guru punya Quran, Ibu letakkan di
tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet.
Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di
tengah tanpa menginjak karpet?”
Murid-muridnya berpikir keras. Ada yang punya alternatif dengan
tongkat, dan lain-lain. Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar,
ia gulung karpetnya, dan ambil Qur’annya. Ia memenuhi syarat, tidak
menginjak karpet.
“Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. . Musuh-musuh
islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan. ..
Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Preman pun tak
akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan
menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak
sadar.”
“Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dibangunnyalah
pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah
aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu
susah kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan
dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari
disingkirkan dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan” .
“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan
menghantam terang-terangan, tapi I a akan perlahan-lahan mencopot
kalian. Mulai dan perangai kalian, cara hidup kalian, mode! pakaian
kalian, dan lain-lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian
telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara yg mereka… Dan
itulah yang mereka inginkan.”
“Ini semua adalah fenomena Perang Pemikiran (Ghazwu al-Fikr). Dan
inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kalian… Paham ànak-
anak?” “Paham buu’
“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Islam,
Bu?” tanya mereka.
“Sesungguhnya dahulu mereka terang-terangan menyerang, semisal Perang
Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi.”
“Begitulah Islam… Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan
sadar, akhirnya ambruk. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan,
mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar.”
Paham anak-anak?” “Paham Buu..”
“Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan marl kita
berdoa dahulu sebelum pulang…”
Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan
tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.
wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
Comment by m ihsan dacholfany — May 18, 2009 @ 6:35 am
Syukur
Seringkali pertanyaan itu terlontar, mencari bentuk sesungguhnya dari kata Syukur
Apa arti syukur ?, bagaimana mensyukuri ?, seperti apa interpretasi dari syukur ?
Hari ini saat bangun tidur, saat nafas terhirup seorang teman mengatakan bersyukurlah kau masih diberi hidup
Kemarin saat kaki melangkah, seorang cacat menegur kakiku dengan keluhannya, bersyukurlah kau memiliki kaki yang lengkap
Tiga hari yang lalu ketika lolos dari kecelakaan semua orang merubungiku dan mengucapkan syukur, “untung kau selamatâ
Dua bulan kemarin, ketika anakku lahir, suamiku tak henti-henti berucap alhamdulillah, bersyukur ?
Setahun lalu saat aku menikah handai taulan merestui seraya menceritakan wanita-wanita lain yang belum mendapat jodoh di usia yang semakin matang. Bersyukur ?
Ayah bahkan merayakan kelulusanku dengan mengadakan syukuran
Tapi, aku tak mengerti apa itu syukur
Saat kisah malaikat kesepian terima kasih diceritakan aku semakin tak mengerti ….
Entahlah, bagiku saat Tuhan memberiku nafas, Tuhan memintaku bertanggung jawab menjalankan hari
Ketika Tuhan membiarkan kaki dan fisikku sempurna, aku merasa Tuhan memintaku menggunakannya dengan responsibilitas tinggi yang kadang aku sulit mewujudkannya
Dan saat Tuhan memberiku seorang Anak, aku terlalu rinci memikirkan biaya hidup, dan pekerjaan yang mesti kutempuh demi masa depan anakku
Waktu seorang pria memintaku menjadi pendampingnya, aku merelakan kebebasanku demi tanggung jawab atas nama keshalihan
Demi wisuda, aku merinding memikirkan amanah keilmuan yang selama ini kupelajari
Ah, Tuhan … semakin banyak kau beri aku kenikmatan, semakin besar tanggung jawab yang mesti kupenuhi
Semakin banyak pula keluhanâ ku
kenikmatan itu tak ubah amanah, kenikmatan itu tak ubah sebuah responsibilitas hidup
Karenanya, terima kasihku seringkali berubah permohonan dan permintaan lain
Ketika terbangun pagi dengan helaan nafas panjang, kuminta Kau mudahkan aku dan lindungi aku dari kekhilafan kata, kesesatan hati dan kegelisahan jiwa
Ketika aku selamat dari kecelakaan aku memohon dalam malam agar berkurang dosaku dengan ampunanmu, karena kematian hanya meninggalkan amalan yang tak pernah mampu kuketahui, “sudah cukupkah amalanku?
Ketika anakku menangis menatap dunia, aku menangis mendengar zaman yang semakin sulit untuk keshalihan anakku, maka aku semakin sering berpuasa dan membangunkan malamku untuk semakin banyak meminta .Mengharap Engkau Tuhan menjaga hidup mereka karena aku takkan pernah bisa selalu mengawasinya
Ketika Ijab kabul terdengar lantang, tangisku semakin sulit terhenti karena wanita shalihah adalah pilihan antara suami dan orang tua, tahukah membangun hubungan antara orang tua, mertua, suami dan keluarga besar ada di pundak seorang wanita … Ah, betapa tidak ringannnya .
Maka, saat wisuda semua orang tertawa, aku merenunginya semalaman suntuk, menelaah ilmu yang kudapati,
Aku takut nuraniku berpaling dari ilmu menjadi harta. Aku takut nafsuku menggeliat meminta penghormatan atas nama gelar. Aku juga takut harga diriku tergadai demi gengsi kehidupan ….
Akhirnya, aku selalu tak sempat berterima kasih. Bagiku Tuhan adalah tempat meminta tanpa henti, bagiku Tuhan adalah tempat aku bersandar, Tuhan adalah segalanya,
aku tak tahu apa aku makhluk penuntut, apa aku makhluk tak berterima kasih
Yang aku tahu, dunia ini tak pernah ramah
Yang aku tahu, terlalu banyak syetan di lingkungan ini
Yang aku tahu, tanggung jawab hidup adalah prioritas ibadah
Aku ingin berterima kasih …, ajarkan aku kawan
Aku tak ingin membiarkan Tuhan merasa sepi rasa terima kasih
Tapi aku tak mengerti apa itu syukur …. Aku tak paham apa implementasi syukur
Aku juga tak mengerti kenapa sulit untuk tidak meminta
Semakin banyak aku merasa diberi semakin banyak itu pula aku meminta
Kumohon ajari aku bersyukur
Ayahku pernah menjawabnya sebelum maut menjemput nafas halusnya
Tugasmu hanyalah bekerja, berjuang dan berbuat, jangan berfikir apa yang akan terjadi, jangan takutkan hasil yang kan kau dapatkan dan jangan sombong dengan usahamu. Bersyukur adalah membiarkan Tuhan menentukan episiklus hidup ini. Seperti ikhlas, senada dengan tawakkal, seiring sejalan dengan Islam,
maka sampai detik ini hamdalah bagiku tidak ungkapan syukur, tetapi pujian
Namun, kemudian aku bertanya kembali, Terlalu banyakkah aku meminta ?
Kapankah aku memiliki kesempatan bersyukur
Comment by m ihsan dacholfany (Pudek Tarbiyah IPRIJA 2006) — June 13, 2009 @ 6:16 am