<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Siroh Nabawiyah</title>
	<link>http://catatanhati.blogsome.com/2005/03/28/siroh-nabawiyah/</link>
	<description>Catatan hati istri dan ibu dari 2 orang anak yang 'amazing'. tinggal di Hamburg, Jerman</description>
	<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 13:28:57 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: m ihsan dacholfany  (Pudek Tarbiyah IPRIJA  2006)</title>
		<link>http://catatanhati.blogsome.com/2005/03/28/siroh-nabawiyah/#comment-140</link>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 06:16:41 +0100</pubDate>
		<guid>http://catatanhati.blogsome.com/2005/03/28/siroh-nabawiyah/#comment-140</guid>
					<description>Syukur

Seringkali pertanyaan itu terlontar, mencari bentuk sesungguhnya dari kata Syukur
Apa arti syukur ?, bagaimana mensyukuri ?, seperti apa interpretasi dari syukur ?
Hari ini saat bangun tidur, saat nafas terhirup seorang teman mengatakan bersyukurlah kau masih diberi hidup
Kemarin saat kaki melangkah, seorang cacat menegur kakiku dengan keluhannya, bersyukurlah kau memiliki kaki yang lengkap
Tiga hari yang lalu ketika lolos dari kecelakaan semua orang merubungiku dan mengucapkan syukur, â€œuntung kau selamatâ
Dua bulan kemarin, ketika anakku lahir, suamiku tak henti-henti berucap alhamdulillah, bersyukur ?
Setahun lalu saat aku menikah handai taulan merestui seraya menceritakan wanita-wanita lain yang belum mendapat jodoh di usia yang semakin matang. Bersyukur ?
Ayah bahkan merayakan kelulusanku dengan mengadakan syukuran
Tapi, aku tak mengerti apa itu syukur
Saat kisah malaikat kesepian terima kasih diceritakan aku semakin tak mengerti â€¦.
Entahlah, bagiku saat Tuhan memberiku nafas, Tuhan memintaku bertanggung jawab menjalankan hari
Ketika Tuhan membiarkan kaki dan fisikku sempurna, aku merasa Tuhan memintaku menggunakannya dengan responsibilitas tinggi yang kadang aku sulit mewujudkannya
Dan saat Tuhan memberiku seorang Anak, aku terlalu rinci memikirkan biaya hidup, dan pekerjaan yang mesti kutempuh demi masa depan anakku
Waktu seorang pria memintaku menjadi pendampingnya, aku merelakan kebebasanku demi tanggung jawab atas nama keshalihan
Demi wisuda, aku merinding memikirkan amanah keilmuan yang selama ini kupelajari
Ah, Tuhan â€¦ semakin banyak kau beri aku kenikmatan, semakin besar tanggung jawab yang mesti kupenuhi
Semakin banyak pula keluhanâ ku
kenikmatan itu tak ubah amanah, kenikmatan itu tak ubah sebuah responsibilitas hidup
Karenanya, terima kasihku seringkali berubah permohonan dan permintaan lain
Ketika terbangun pagi dengan helaan nafas panjang, kuminta Kau mudahkan aku dan lindungi aku dari kekhilafan kata, kesesatan hati dan kegelisahan jiwa
Ketika aku selamat dari kecelakaan aku memohon dalam malam agar berkurang dosaku dengan ampunanmu, karena kematian hanya meninggalkan amalan yang tak pernah mampu kuketahui, â€œsudah cukupkah amalanku?
Ketika anakku menangis menatap dunia, aku menangis mendengar zaman yang semakin sulit untuk keshalihan anakku, maka aku semakin sering berpuasa dan membangunkan malamku untuk semakin banyak meminta .Mengharap Engkau Tuhan menjaga hidup mereka karena aku takkan pernah bisa selalu mengawasinya
Ketika Ijab kabul terdengar lantang, tangisku semakin sulit terhenti karena wanita shalihah adalah pilihan antara suami dan orang tua, tahukah membangun hubungan antara orang tua, mertua, suami dan keluarga besar ada di pundak seorang wanita â€¦ Ah, betapa tidak ringannnya .
Maka, saat wisuda semua orang tertawa, aku merenunginya semalaman suntuk, menelaah ilmu yang kudapati,
Aku takut nuraniku berpaling dari ilmu menjadi harta. Aku takut nafsuku menggeliat meminta penghormatan atas nama gelar. Aku juga takut harga diriku tergadai demi gengsi kehidupan â€¦.
Akhirnya, aku selalu tak sempat berterima kasih. Bagiku Tuhan adalah tempat meminta tanpa henti, bagiku Tuhan adalah tempat aku bersandar, Tuhan adalah segalanya,
aku tak tahu apa aku makhluk penuntut, apa aku makhluk tak berterima kasih
Yang aku tahu, dunia ini tak pernah ramah
Yang aku tahu, terlalu banyak syetan di lingkungan ini
Yang aku tahu, tanggung jawab hidup adalah prioritas ibadah
Aku ingin berterima kasih â€¦, ajarkan aku kawan
Aku tak ingin membiarkan Tuhan merasa sepi rasa terima kasih
Tapi aku tak mengerti apa itu syukur â€¦. Aku tak paham apa implementasi syukur
Aku juga tak mengerti kenapa sulit untuk tidak meminta
Semakin banyak aku merasa diberi semakin banyak itu pula aku meminta
Kumohon ajari aku bersyukur
Ayahku pernah menjawabnya sebelum maut menjemput nafas halusnya
Tugasmu hanyalah bekerja, berjuang dan berbuat, jangan berfikir apa yang akan terjadi, jangan takutkan hasil yang kan kau dapatkan dan jangan sombong dengan usahamu. Bersyukur adalah membiarkan Tuhan menentukan episiklus hidup ini. Seperti ikhlas, senada dengan tawakkal, seiring sejalan dengan Islam,
maka sampai detik ini hamdalah bagiku tidak ungkapan syukur, tetapi pujian
Namun, kemudian aku bertanya kembali, Terlalu banyakkah aku meminta ?
Kapankah aku memiliki kesempatan bersyukur</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Syukur</p>
	<p>Seringkali pertanyaan itu terlontar, mencari bentuk sesungguhnya dari kata Syukur<br />
Apa arti syukur ?, bagaimana mensyukuri ?, seperti apa interpretasi dari syukur ?<br />
Hari ini saat bangun tidur, saat nafas terhirup seorang teman mengatakan bersyukurlah kau masih diberi hidup<br />
Kemarin saat kaki melangkah, seorang cacat menegur kakiku dengan keluhannya, bersyukurlah kau memiliki kaki yang lengkap<br />
Tiga hari yang lalu ketika lolos dari kecelakaan semua orang merubungiku dan mengucapkan syukur, â€œuntung kau selamatâ<br />
Dua bulan kemarin, ketika anakku lahir, suamiku tak henti-henti berucap alhamdulillah, bersyukur ?<br />
Setahun lalu saat aku menikah handai taulan merestui seraya menceritakan wanita-wanita lain yang belum mendapat jodoh di usia yang semakin matang. Bersyukur ?<br />
Ayah bahkan merayakan kelulusanku dengan mengadakan syukuran<br />
Tapi, aku tak mengerti apa itu syukur<br />
Saat kisah malaikat kesepian terima kasih diceritakan aku semakin tak mengerti â€¦.<br />
Entahlah, bagiku saat Tuhan memberiku nafas, Tuhan memintaku bertanggung jawab menjalankan hari<br />
Ketika Tuhan membiarkan kaki dan fisikku sempurna, aku merasa Tuhan memintaku menggunakannya dengan responsibilitas tinggi yang kadang aku sulit mewujudkannya<br />
Dan saat Tuhan memberiku seorang Anak, aku terlalu rinci memikirkan biaya hidup, dan pekerjaan yang mesti kutempuh demi masa depan anakku<br />
Waktu seorang pria memintaku menjadi pendampingnya, aku merelakan kebebasanku demi tanggung jawab atas nama keshalihan<br />
Demi wisuda, aku merinding memikirkan amanah keilmuan yang selama ini kupelajari<br />
Ah, Tuhan â€¦ semakin banyak kau beri aku kenikmatan, semakin besar tanggung jawab yang mesti kupenuhi<br />
Semakin banyak pula keluhanâ ku<br />
kenikmatan itu tak ubah amanah, kenikmatan itu tak ubah sebuah responsibilitas hidup<br />
Karenanya, terima kasihku seringkali berubah permohonan dan permintaan lain<br />
Ketika terbangun pagi dengan helaan nafas panjang, kuminta Kau mudahkan aku dan lindungi aku dari kekhilafan kata, kesesatan hati dan kegelisahan jiwa<br />
Ketika aku selamat dari kecelakaan aku memohon dalam malam agar berkurang dosaku dengan ampunanmu, karena kematian hanya meninggalkan amalan yang tak pernah mampu kuketahui, â€œsudah cukupkah amalanku?<br />
Ketika anakku menangis menatap dunia, aku menangis mendengar zaman yang semakin sulit untuk keshalihan anakku, maka aku semakin sering berpuasa dan membangunkan malamku untuk semakin banyak meminta .Mengharap Engkau Tuhan menjaga hidup mereka karena aku takkan pernah bisa selalu mengawasinya<br />
Ketika Ijab kabul terdengar lantang, tangisku semakin sulit terhenti karena wanita shalihah adalah pilihan antara suami dan orang tua, tahukah membangun hubungan antara orang tua, mertua, suami dan keluarga besar ada di pundak seorang wanita â€¦ Ah, betapa tidak ringannnya .<br />
Maka, saat wisuda semua orang tertawa, aku merenunginya semalaman suntuk, menelaah ilmu yang kudapati,<br />
Aku takut nuraniku berpaling dari ilmu menjadi harta. Aku takut nafsuku menggeliat meminta penghormatan atas nama gelar. Aku juga takut harga diriku tergadai demi gengsi kehidupan â€¦.<br />
Akhirnya, aku selalu tak sempat berterima kasih. Bagiku Tuhan adalah tempat meminta tanpa henti, bagiku Tuhan adalah tempat aku bersandar, Tuhan adalah segalanya,<br />
aku tak tahu apa aku makhluk penuntut, apa aku makhluk tak berterima kasih<br />
Yang aku tahu, dunia ini tak pernah ramah<br />
Yang aku tahu, terlalu banyak syetan di lingkungan ini<br />
Yang aku tahu, tanggung jawab hidup adalah prioritas ibadah<br />
Aku ingin berterima kasih â€¦, ajarkan aku kawan<br />
Aku tak ingin membiarkan Tuhan merasa sepi rasa terima kasih<br />
Tapi aku tak mengerti apa itu syukur â€¦. Aku tak paham apa implementasi syukur<br />
Aku juga tak mengerti kenapa sulit untuk tidak meminta<br />
Semakin banyak aku merasa diberi semakin banyak itu pula aku meminta<br />
Kumohon ajari aku bersyukur<br />
Ayahku pernah menjawabnya sebelum maut menjemput nafas halusnya<br />
Tugasmu hanyalah bekerja, berjuang dan berbuat, jangan berfikir apa yang akan terjadi, jangan takutkan hasil yang kan kau dapatkan dan jangan sombong dengan usahamu. Bersyukur adalah membiarkan Tuhan menentukan episiklus hidup ini. Seperti ikhlas, senada dengan tawakkal, seiring sejalan dengan Islam,<br />
maka sampai detik ini hamdalah bagiku tidak ungkapan syukur, tetapi pujian<br />
Namun, kemudian aku bertanya kembali, Terlalu banyakkah aku meminta ?<br />
Kapankah aku memiliki kesempatan bersyukur
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: m ihsan dacholfany</title>
		<link>http://catatanhati.blogsome.com/2005/03/28/siroh-nabawiyah/#comment-136</link>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 06:35:43 +0100</pubDate>
		<guid>http://catatanhati.blogsome.com/2005/03/28/siroh-nabawiyah/#comment-136</guid>
					<description>Perang Pemikiran
M Ihsan dacholfany (Aby Irsad dan Izzah)

Seorang wanita berjilbab rapi tampak sedang bersemangat mengajarkan 
sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di 
tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Sang guru 
berkata, &quot;Saya punya permainan...

Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada 
penghapus.Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah &quot;Kapur.!&quot;, jika 
saya angkat penghapus ini, maka berserulah &quot;Penghapus!&quot;

Murid munidnya pun mengerti dan mengikuti. Sang guru berganti-gantian 
mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin 
cepat. Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata,

&quot;Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah
&quot;Penghapusl&quot; , jika saya angkat penghapus, maka katakanlah &quot;Kapur!&quot;.

Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, tantu saja munid-munid 
kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya. Namun 
lambat laun, mereka bisa beradaptasi dan tidak lagi sulit. Selang 
beberapa saat, permainan berhenti Sang guru tersenyum kepada murid-
munidnya.

&quot;Anak-anak, begituah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang 
bathi! itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, 
musuh musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk 
membalik sesuatu, dan yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya. 
Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menenima hal tersebut, tapi 
karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, 
akhirnya lambat pun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai 
mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik 
nilai&quot;.

&quot;Pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, zina tidak lagi jadi 
persoalan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex before married 
menjadi suatu hiburan, berjilbab tapi telanjang jadi mode, 
materialistis dan permissive kini menjadi suatu gaya hidup 
pilihan,dan lain lain.&quot;

&quot;Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadani, kallan sedikit demi 
sedikit menerimanya. Paham?&quot; tanya bu Guru kepada murid-
munidnya. &quot;Paham buu...&quot;

&quot;Baik permainan kedua...&quot;

Begitu Bu Guru melanjutkan. &quot;Bu Guru punya Quran, Ibu letakkan di 
tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet. 
Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di 
tengah tanpa menginjak karpet?&quot;

Murid-muridnya berpikir keras. Ada yang punya alternatif dengan 
tongkat, dan lain-lain. Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, 
ia gulung karpetnya, dan ambil Qur'annya. Ia memenuhi syarat, tidak 
menginjak karpet.

&quot;Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. . Musuh-musuh 
islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan. .. 
Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Preman pun tak 
akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan 
menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak 
sadar.&quot;

&quot;Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dibangunnyalah 
pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah 
aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu 
susah kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan 
dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari 
disingkirkan dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan&quot; .

&quot;Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan 
menghantam terang-terangan, tapi I a akan perlahan-lahan mencopot 
kalian. Mulai dan perangai kalian, cara hidup kalian, mode! pakaian 
kalian, dan lain-lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian 
telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara yg mereka... Dan 
itulah yang mereka inginkan.&quot;

&quot;Ini semua adalah fenomena Perang Pemikiran (Ghazwu al-Fikr). Dan 
inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kalian... Paham ànak-
anak?&quot; &quot;Paham buu'

&quot;Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Islam, 
Bu?&quot; tanya mereka.

&quot;Sesungguhnya dahulu mereka terang-terangan menyerang, semisal Perang 
Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi.&quot;

&quot;Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan 
sadar, akhirnya ambruk. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan, 
mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar.&quot;

Paham anak-anak?&quot; &quot;Paham Buu..&quot;

&quot;Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan marl kita 
berdoa dahulu sebelum pulang...&quot;

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan 
tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Perang Pemikiran<br />
M Ihsan dacholfany (Aby Irsad dan Izzah)</p>
	<p>Seorang wanita berjilbab rapi tampak sedang bersemangat mengajarkan<br />
sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di<br />
tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Sang guru<br />
berkata, &#8220;Saya punya permainan&#8230;</p>
	<p>Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada<br />
penghapus.Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah &#8220;Kapur.!&#8221;, jika<br />
saya angkat penghapus ini, maka berserulah &#8220;Penghapus!&#8221;</p>
	<p>Murid munidnya pun mengerti dan mengikuti. Sang guru berganti-gantian<br />
mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin<br />
cepat. Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata,</p>
	<p>&#8220;Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah<br />
&#8220;Penghapusl&#8221; , jika saya angkat penghapus, maka katakanlah &#8220;Kapur!&#8221;.</p>
	<p>Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, tantu saja munid-munid<br />
kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya. Namun<br />
lambat laun, mereka bisa beradaptasi dan tidak lagi sulit. Selang<br />
beberapa saat, permainan berhenti Sang guru tersenyum kepada murid-<br />
munidnya.</p>
	<p>&#8220;Anak-anak, begituah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang<br />
bathi! itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian,<br />
musuh musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk<br />
membalik sesuatu, dan yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya.<br />
Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menenima hal tersebut, tapi<br />
karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka,<br />
akhirnya lambat pun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai<br />
mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik<br />
nilai&#8221;.</p>
	<p>&#8220;Pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, zina tidak lagi jadi<br />
persoalan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex before married<br />
menjadi suatu hiburan, berjilbab tapi telanjang jadi mode,<br />
materialistis dan permissive kini menjadi suatu gaya hidup<br />
pilihan,dan lain lain.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadani, kallan sedikit demi<br />
sedikit menerimanya. Paham?&#8221; tanya bu Guru kepada murid-<br />
munidnya. &#8220;Paham buu&#8230;&#8221;</p>
	<p>&#8220;Baik permainan kedua&#8230;&#8221;</p>
	<p>Begitu Bu Guru melanjutkan. &#8220;Bu Guru punya Quran, Ibu letakkan di<br />
tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet.<br />
Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur&#8217;an yang ada di<br />
tengah tanpa menginjak karpet?&#8221;</p>
	<p>Murid-muridnya berpikir keras. Ada yang punya alternatif dengan<br />
tongkat, dan lain-lain. Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar,<br />
ia gulung karpetnya, dan ambil Qur&#8217;annya. Ia memenuhi syarat, tidak<br />
menginjak karpet.</p>
	<p>&#8220;Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. . Musuh-musuh<br />
islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan. ..<br />
Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Preman pun tak<br />
akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan<br />
menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak<br />
sadar.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dibangunnyalah<br />
pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah<br />
aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu<br />
susah kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan<br />
dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari<br />
disingkirkan dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan&#8221; .</p>
	<p>&#8220;Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan<br />
menghantam terang-terangan, tapi I a akan perlahan-lahan mencopot<br />
kalian. Mulai dan perangai kalian, cara hidup kalian, mode! pakaian<br />
kalian, dan lain-lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian<br />
telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara yg mereka&#8230; Dan<br />
itulah yang mereka inginkan.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Ini semua adalah fenomena Perang Pemikiran (Ghazwu al-Fikr). Dan<br />
inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kalian&#8230; Paham ànak-<br />
anak?&#8221; &#8220;Paham buu&#8217;</p>
	<p>&#8220;Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Islam,<br />
Bu?&#8221; tanya mereka.</p>
	<p>&#8220;Sesungguhnya dahulu mereka terang-terangan menyerang, semisal Perang<br />
Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Begitulah Islam&#8230; Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan<br />
sadar, akhirnya ambruk. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan,<br />
mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar.&#8221;</p>
	<p>Paham anak-anak?&#8221; &#8220;Paham Buu..&#8221;</p>
	<p>&#8220;Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan marl kita<br />
berdoa dahulu sebelum pulang&#8230;&#8221;</p>
	<p>Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan<br />
tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.</p>
	<p>wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: m ihsan dacholfany</title>
		<link>http://catatanhati.blogsome.com/2005/03/28/siroh-nabawiyah/#comment-135</link>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 06:33:46 +0100</pubDate>
		<guid>http://catatanhati.blogsome.com/2005/03/28/siroh-nabawiyah/#comment-135</guid>
					<description>SIRAH NABAWIYAH
REKAMAN PERISTIWA AJAKAN DAKWAH KEPADA KELUARGA DEKAT 
PENENTANGAN ABU LAHAB,
BADAI MENERPA KEJANTUNG RUMAH TANGGA

I.  MUQADDIMAH.
Segala puji hanyak milik Allah SWT. Sholawat dan salam kepada Nabi kita Nabi besar Muhammad Saw, serta keluarga dan para sahabat. Amin Yaa Robbal ‘Alamiin. Muhammad, sebanyak apapun pujian yang kita tujukan kepadanya, maka sebenarnya itu hanyalah memperbanyak pujian terhadap kemanusiaan hakiki, yang dalam sepanjang perjalanannya belum pernah melihat satu makhluk pun yang bisa membuktikannya, kecuali Nabi Muhammad SAW. Siapapun yang mengenal beliau, maka ia akan mengenal semua kebaikan, kebenaran dan keindahan kepribadian beliau SAW.
II. PEMBAHASAN
	Berdakwah Di Kalangan Kaum Kerabat.
            Ketika Allah berfirman dalam Al-Qur’an,yaitu:
وأنذر عشرتك الأاقربين
Artinya: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” (QS. As-Syu’ara: 214)
Ayat tersebut diatas memerintahkan kepada Rasulullah SAW agar berdakwah secara terang-terangan dan mengingatkan keluarga dekatnya. Dan ketika Nabi melakukan hal tersebut maka dakwah memasuki fase yang kedua. 
 Abu Hurairah meriwayatkan, ketika ayat diatas turun, Rasulullah Saw berdiri kemudian berkata: “Hai orang-orang Quraisy, Hai Bani ‘Abdul Muthalib, Hai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib, Hai Shafiyyah, bibi Rasul Allah, di hadapan Allah aku tidak berguna bagi kalian.......Hai Fatimah binti Rasul Allah, engkau bisa meminta harta kepadaku, tetapi di hadapan Allah aku tidak berguna bagimu”. 
Kemudian Ibnu Atsir meriwayatkan, bahwa Ja’far bin ‘Abdullah bin Abil-Hakim berkata: “Setelah Rasulullah menerima wahyu “........dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat.....”,Rasulullah sangat gelisah, beliau tinggal dirumah seperti orang sakit. Kemudian bibi beliau datang menjenguk. Saat itu beliau berkata kepada mereka: “Aku tidak sakit......hanya Allah memerintahkan aku supaya memberi peringatan kepada kaum kerabatku. “Mereka menjawab: “Ajaklah mereka memeluk ajaran islam, tetapi janganlah engkau mengajak Abu Lahab, sebab dia tidak akan menyambut baik ajakanmu.” 
Kemudian Rasulullah SAW mengundang mereka datang kerumah. Datanglah empat puluh lima orang,  memenuhi undangan beliau termasuk di antaranya beberapa orang dari Bani ‘Abdul Muthalib bin ‘Abdul Manaf. Abu Lahab yang saat itu turut hadir, berkata; “Hai Muhammad, mereka itu adalah para pamanmu, dan anak-anak dari pamanmu, bicaralah dan jangan engkau bermain-main! Ketahuilah, bahwa kaum kerabatmu tidak mempunyai kekuasaan terhadap seluruh bangsa Arab. Aku berhak menentangmu, cukuplah bagimu perlindungan dari sanak family ayahmu! Jika engkau terus menerus berbuat seperti yang engkau lakukan itu, mereka akan lebih mudah menyerangmu dari pada suku-suku kabilah Quraisy lainnya, dan pasti akan dibantu oleh seluruh orang Arab. Sesungguhnya aku tidak pernah melihat ada seseorang yang datang membawa bencana seperti yang engkau bawa itu!” 
Ketika Rasulullah Saw bersabda kepada kaum kerabatnya, “Seorang utusan tidak akan membohongi keluarganya. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, bahwa aku adalah utusan Allah, khususnya kepada kalian dan kepada semua manusia pada umumnya. Demi Allah kalian pasti akan mati seperti disaat kalian tidur, dan kalian pasti akan dihidupkan kembali seperti disaat kalian bangun tidur. Terhadap kalian pasti akan diadakan perhitungan mengenai apa yang telah kalian perbuat. Kemudian tidak akan ada tempat lain kecuali syurga yang kekal selama-lamanya, atau neraka yang juga kekal selama-lamanya…..”
Abu Thalib pun berkata: “Dengan senang hati kami bersedia membantumu, kami terima apa yang kau berikan sebagai nasehat, dan kamipun mempercayai segala tutur katamu! Mereka yang sekarang berkumpul itu adalah sanak family ayahmu dan aku hanyalah seoarang dari mereka…..tetapi justru akulah yang paling cepat mrnyambut keinginanmu. Jalankan terus apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku akan tetap melindungi dan membantumu, tetapi aku sendiri tidak dapat meninggalkan agama “Abdul Muthalib!” Abu Lahab berkata: “Demi Allah, itu sikap yang sangat buruk! Cegahlah dia (Muhammad) sebelum orang-orang lain bertindak terhadap kalian!” Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, sungguh selama kami masih hidup, kami akan membelanya”. 
   
Nabi Muhammad Saw selalu mengajak pamannya untuk meninggalkan “agama” nenek moyangnya, akan tetapi Abu Thalib tetap teguh dengan pendiriannya.
Ibnu Ishaq  meriwayatkan jika telah menjelang waktu sholat, beliau keluar ke pinggiran kota Mekkah beserta Ali bin Abi Thalib dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh Abu Thalib, para paman, dan ketua Quraisy. Ditempat yang jauh dari kota itu, beliau mengerjakan sholat bersama Ali, dan pada petang harinya beliau berdua kembali kerumah. Demikianlah terus-menerus sampai beberapa waktu lamanya.
Pada suatu hari Abu Thalib mengetahui mereka berdua sedang mengerjakan sholat, Abu Thalib bertanya kepada Nabi Saw, “Hai anak laki-laki saudaraku,agama apakah itu yang aku lihat engkau mengikutinya?”. Pada waktu itu Nabi menjawab sambil menyampaikan seruan kepada pamannya yang sangat dicintainya itu dengan suara lembut : “Pamanku, inilah agama Allah, agama Malaikat-Nya, agama para rasul-Nya, dan agama bapak  kami, Nabi Ibrahim. Allah menetapkan aku sebagai utusan dengan membawa agama ini kepada segenap hamba-Nya, dan engkau, hai pamanku, orang yang lebih berhak aku beri nasehat untuk mengikutinya dan aku menyerukannya kepada petunjuk itu, dan orang yang lebih berhak melaksanakan seruanku ini kepadanya dan membantu aku dalam menyampaikan seruannya.”
Demikianlah seruan Nabi kepada Abu Thalib. Abu Thalib mendengar seruan yang baik itu menjawab, “Hai anak saudaraku, sesungguhnya aku tidak sanggup berpisah dari agama para orang tuaku yang dahulu dan apa-apa yang telah dilakukan mereka. Sungguhpun demikian, demi Allah, tidak akan ada sesuatu apa pun yang engkau benci yang dapat  disampaikan kepadamu selama aku masih ada.”
Selanjutnya Abu Thalib bertanya kepada anaknya, Ali, “Agama apakah yang engkau ikuti wahai anaku?”
Ali menjawab dengan tegas, “Wahai ayah, aku beriman kepada Allah dan kepada utusan Allah, aku membenarkan segala sesuatu yang dibawanya, aku mengerjakan sholat bersama dia kepada Allah, dan mengikut pimpinanya.”
Ketika itu juga Abu Thalib  berkata kepada anaknya, “Memang sebenarnya yang diserukannya kepadamu itu tidak lain melainkan seruan kepada kebajikan. Oleh sebab itu, maka tetaplah engkau mengikutinya! 
Walaupun Abu Thalib istiqomah dalam kesyirikannya dan berpegang teguh pada “agama” nenek moyangnya, ia sangat menaruh simpati dan memperlihatkan cinta yang sangat mendalam kepada keponakannya, Muhammad SAW. Ia menyadari sepenuhnya kesulitan yang akan dialami bersama keluarganya akibat pembelaan yang diberikannya kepada Nabi Muhammad SAW. Kecintaan dan perlindungan yang diberikan Abu Thalib kepada Nabi Muhammad SAW, dalam menghadapi berbagai macam gangguan, menjamin keleluasaan beliau SAW dalam menjalankan tugas menyampaikan risalah Ilahi
Abu Thalib termasuk tokoh yang sangat berpengaruh dikota Mekkah. Ia dihormati oleh kaum kerabatnya dan dihormati serta disegani pula oleh orang lain. Tidak ada seorang pun yang berani mengganggu orang yang berada di bawah perlindungannya, atau berani meremehkan jaminan keselamatan yang diberikan oleh Abu Thalib.
Sedangkan Abu Lahab adalah seorang yang mencerminkan konsekwensi para kepala kabilah yang secara mati-matian mempertahankan kepentingan dan popularitas, tanpa memperdulikan kebenaran dan kebathilan. Apa saja yang dianggap akan merusak kepentingan mereka, atau menjelekan nama baik mereka, serta membangkitkan emosi mereka, akan mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang sangat tercela.
Abu Lahab adalah seorang paman Rasulullah SAW. Nama lengkapnya Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Nama panggilannya Abu Utaibah. Dinamakan Abu Lahab karena wajahnya yang sangat bercahaya. Dia adalah orang yang paling banyak menyakiti Nabi Muhammad Saw. dan sangat membencinya, menghina dan meremehkannya,dan meremehkan agamanya.
Tabiat bengis yang ada pada diri Abu Lahab selalu mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang rendah. Dua orang anak lelakinya menikah dengan dua orang putri Muhammad SAW, tetapi Abu Lahab memaksa kedua orang anaknya untuk menceraikan istrinya masing-masing. Utbah menceraikan Ruqayyah dan Utaibah menceraikan Ummu Kaltsum.
Besar kemungkinan Abu Lahab terpengaruh oleh kebencian istrinya, Ummu Jamil. Adapun namanya adalah Area bintu Harb bin Umayyah, saudari Abu Sufyan.  Dia memberi bantuan kepada suaminya dalam hal melakukan kekufuran dan pembangkangan. Itulah sebabnya dihari kiamat nanti dia pun akan memberikan bantuan kepada suaminya ketika dia disiksa didalam api neraka Jahannam. Itulah sebabnya Allah SWT berfirman,”Pembawa kayu bakar, yang lehernya ada tali dari sabut.” 
Diriwayatkan oleh Sa’id bin Musayyab bahwa dia adalah seorang wanita yang mempunyai kalung yang sangat mahal dilehernya. Kemudian dia berkata, “Aku akan mendermakan kalung ini untuk melancarkan permusuhan kepada Muhammad!” Dengan demikian, Allah pun akan memberikan siksaan kepadanya didalam neraka nanti dengan tali dari sabut. Sebagian ulama menafsirkan tentang ayat, “Yang di lehernya terdapat tali sabut,”  bahwasanya di neraka Jahannam Allah akan mengalungkan di lehernya sebuah tali dari api yang akan mengangkatnya sampai ke bibir neraka, kemudian dilemparkan ke dasar neraka. Dan demikianlah seterusnya. 
Ummul Jamil adalah seorang wanita yang berlidah tajam. Sehingga Ummul Jamil melancarkan berbagai macam celaan terhadap pribadi Nabi Muhammad Saw dan tidak segan-segan mengobral segala macam omongan untuk mendustakan dan menjatuhkan nama baik Nabi Muhammad Saw. Diantara finah yang dilakukan Ummu Jamil kepada Nabi Saw ialah ketika Ummu Jamil mendengar bunyi surah Masad (Surah al-Lahab)  yang dibaca oleh seorang sahabat Nabi Saw. Seketika itu juga dia merasa bahwa dirinya dicaci maki dan dihinakan oleh bunyi ayat-ayat yang dibawa oleh Nabi Saw. Karena itu, dia melaporkan hal itu kepada saudara laki-lakinya (Abu Sufyan). Ummu Jamil berkata bahwa Nabi Muhammad Saw telah mencaci maki dan mengata-ngatai dirinya dengan perkataan jelek dan keji. Kemudian Abu Sufyan segera pulang kerumahnya untuk mengambil pedang, dengan pedang yang terhunus Abu Sufyan datang kerumah Nabi Saw dengan niat untuk membunuh Nabi, akan tetapi masih ditengah perjalanan, sekonyong-konyongnya Abu Sufyan ketakutan karena  seolah-olah dia melihat ular yang besar mendekati dan ingin menelan dirinya, sehingga dia kembali kerumahnya dengan tergesa-gesa. Dengan demikian, selamatlah Nabi Saw. dari penganiayaan Abu Sufyan karena fitnah dari Ummul Jamil yang jahat itu. 
 III. KESIMPULAN
Dalam kekeluargaan sejak zaman sebelum islam, hubungan Nabi Muhammad SAW sebelum menjadi Rasul amat baik sekali dengan paman-pamannya termasuk Abu Lahab. Akan tetapi ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi utusan Allah, maka disinilah badai menerpa jantung rumah tangga karena ada yang menerima dan menentang dakwah Rasullah SAW.
  


REFERENSI
 Al-Ghazaly, Muhammad, Fiqhus Suroh, Bandung: PT. ALMA”ARIF, Cet.II
 Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurrahman, Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung Muhammad, Jakarta: Darul Haq, Cet.IX, Maret 2007.
Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurrahman, Sirah nabawiyah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet. XIII, Januari 2003.
Bahjat, Ahmad, Sejarah Nabi-Nabi Allah, Jakarta: PT. LENTERA BASRITAMA, Cet.I, Oktober 2001.
K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jakarta: Gema Insani Press, Cet.I, Jil.I, Agustus 2001.  
Ramadhan Al-Buthy, Muhammad Said, Sirah Nabawiyah, Jakarta: Robbani Press, Cet.XIII, Maret 2008.            </description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>SIRAH NABAWIYAH<br />
REKAMAN PERISTIWA AJAKAN DAKWAH KEPADA KELUARGA DEKAT<br />
PENENTANGAN ABU LAHAB,<br />
BADAI MENERPA KEJANTUNG RUMAH TANGGA</p>
	<p>I.  MUQADDIMAH.<br />
Segala puji hanyak milik Allah SWT. Sholawat dan salam kepada Nabi kita Nabi besar Muhammad Saw, serta keluarga dan para sahabat. Amin Yaa Robbal ‘Alamiin. Muhammad, sebanyak apapun pujian yang kita tujukan kepadanya, maka sebenarnya itu hanyalah memperbanyak pujian terhadap kemanusiaan hakiki, yang dalam sepanjang perjalanannya belum pernah melihat satu makhluk pun yang bisa membuktikannya, kecuali Nabi Muhammad SAW. Siapapun yang mengenal beliau, maka ia akan mengenal semua kebaikan, kebenaran dan keindahan kepribadian beliau SAW.<br />
II. PEMBAHASAN<br />
	Berdakwah Di Kalangan Kaum Kerabat.<br />
            Ketika Allah berfirman dalam Al-Qur’an,yaitu:<br />
وأنذر عشرتك الأاقربين<br />
Artinya: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” (QS. As-Syu’ara: 214)<br />
Ayat tersebut diatas memerintahkan kepada Rasulullah SAW agar berdakwah secara terang-terangan dan mengingatkan keluarga dekatnya. Dan ketika Nabi melakukan hal tersebut maka dakwah memasuki fase yang kedua.<br />
 Abu Hurairah meriwayatkan, ketika ayat diatas turun, Rasulullah Saw berdiri kemudian berkata: “Hai orang-orang Quraisy, Hai Bani ‘Abdul Muthalib, Hai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib, Hai Shafiyyah, bibi Rasul Allah, di hadapan Allah aku tidak berguna bagi kalian&#8230;&#8230;.Hai Fatimah binti Rasul Allah, engkau bisa meminta harta kepadaku, tetapi di hadapan Allah aku tidak berguna bagimu”.<br />
Kemudian Ibnu Atsir meriwayatkan, bahwa Ja’far bin ‘Abdullah bin Abil-Hakim berkata: “Setelah Rasulullah menerima wahyu “&#8230;&#8230;..dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat&#8230;..”,Rasulullah sangat gelisah, beliau tinggal dirumah seperti orang sakit. Kemudian bibi beliau datang menjenguk. Saat itu beliau berkata kepada mereka: “Aku tidak sakit&#8230;&#8230;hanya Allah memerintahkan aku supaya memberi peringatan kepada kaum kerabatku. “Mereka menjawab: “Ajaklah mereka memeluk ajaran islam, tetapi janganlah engkau mengajak Abu Lahab, sebab dia tidak akan menyambut baik ajakanmu.”<br />
Kemudian Rasulullah SAW mengundang mereka datang kerumah. Datanglah empat puluh lima orang,  memenuhi undangan beliau termasuk di antaranya beberapa orang dari Bani ‘Abdul Muthalib bin ‘Abdul Manaf. Abu Lahab yang saat itu turut hadir, berkata; “Hai Muhammad, mereka itu adalah para pamanmu, dan anak-anak dari pamanmu, bicaralah dan jangan engkau bermain-main! Ketahuilah, bahwa kaum kerabatmu tidak mempunyai kekuasaan terhadap seluruh bangsa Arab. Aku berhak menentangmu, cukuplah bagimu perlindungan dari sanak family ayahmu! Jika engkau terus menerus berbuat seperti yang engkau lakukan itu, mereka akan lebih mudah menyerangmu dari pada suku-suku kabilah Quraisy lainnya, dan pasti akan dibantu oleh seluruh orang Arab. Sesungguhnya aku tidak pernah melihat ada seseorang yang datang membawa bencana seperti yang engkau bawa itu!”<br />
Ketika Rasulullah Saw bersabda kepada kaum kerabatnya, “Seorang utusan tidak akan membohongi keluarganya. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, bahwa aku adalah utusan Allah, khususnya kepada kalian dan kepada semua manusia pada umumnya. Demi Allah kalian pasti akan mati seperti disaat kalian tidur, dan kalian pasti akan dihidupkan kembali seperti disaat kalian bangun tidur. Terhadap kalian pasti akan diadakan perhitungan mengenai apa yang telah kalian perbuat. Kemudian tidak akan ada tempat lain kecuali syurga yang kekal selama-lamanya, atau neraka yang juga kekal selama-lamanya…..”<br />
Abu Thalib pun berkata: “Dengan senang hati kami bersedia membantumu, kami terima apa yang kau berikan sebagai nasehat, dan kamipun mempercayai segala tutur katamu! Mereka yang sekarang berkumpul itu adalah sanak family ayahmu dan aku hanyalah seoarang dari mereka…..tetapi justru akulah yang paling cepat mrnyambut keinginanmu. Jalankan terus apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku akan tetap melindungi dan membantumu, tetapi aku sendiri tidak dapat meninggalkan agama “Abdul Muthalib!” Abu Lahab berkata: “Demi Allah, itu sikap yang sangat buruk! Cegahlah dia (Muhammad) sebelum orang-orang lain bertindak terhadap kalian!” Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, sungguh selama kami masih hidup, kami akan membelanya”. </p>
	<p>Nabi Muhammad Saw selalu mengajak pamannya untuk meninggalkan “agama” nenek moyangnya, akan tetapi Abu Thalib tetap teguh dengan pendiriannya.<br />
Ibnu Ishaq  meriwayatkan jika telah menjelang waktu sholat, beliau keluar ke pinggiran kota Mekkah beserta Ali bin Abi Thalib dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh Abu Thalib, para paman, dan ketua Quraisy. Ditempat yang jauh dari kota itu, beliau mengerjakan sholat bersama Ali, dan pada petang harinya beliau berdua kembali kerumah. Demikianlah terus-menerus sampai beberapa waktu lamanya.<br />
Pada suatu hari Abu Thalib mengetahui mereka berdua sedang mengerjakan sholat, Abu Thalib bertanya kepada Nabi Saw, “Hai anak laki-laki saudaraku,agama apakah itu yang aku lihat engkau mengikutinya?”. Pada waktu itu Nabi menjawab sambil menyampaikan seruan kepada pamannya yang sangat dicintainya itu dengan suara lembut : “Pamanku, inilah agama Allah, agama Malaikat-Nya, agama para rasul-Nya, dan agama bapak  kami, Nabi Ibrahim. Allah menetapkan aku sebagai utusan dengan membawa agama ini kepada segenap hamba-Nya, dan engkau, hai pamanku, orang yang lebih berhak aku beri nasehat untuk mengikutinya dan aku menyerukannya kepada petunjuk itu, dan orang yang lebih berhak melaksanakan seruanku ini kepadanya dan membantu aku dalam menyampaikan seruannya.”<br />
Demikianlah seruan Nabi kepada Abu Thalib. Abu Thalib mendengar seruan yang baik itu menjawab, “Hai anak saudaraku, sesungguhnya aku tidak sanggup berpisah dari agama para orang tuaku yang dahulu dan apa-apa yang telah dilakukan mereka. Sungguhpun demikian, demi Allah, tidak akan ada sesuatu apa pun yang engkau benci yang dapat  disampaikan kepadamu selama aku masih ada.”<br />
Selanjutnya Abu Thalib bertanya kepada anaknya, Ali, “Agama apakah yang engkau ikuti wahai anaku?”<br />
Ali menjawab dengan tegas, “Wahai ayah, aku beriman kepada Allah dan kepada utusan Allah, aku membenarkan segala sesuatu yang dibawanya, aku mengerjakan sholat bersama dia kepada Allah, dan mengikut pimpinanya.”<br />
Ketika itu juga Abu Thalib  berkata kepada anaknya, “Memang sebenarnya yang diserukannya kepadamu itu tidak lain melainkan seruan kepada kebajikan. Oleh sebab itu, maka tetaplah engkau mengikutinya!<br />
Walaupun Abu Thalib istiqomah dalam kesyirikannya dan berpegang teguh pada “agama” nenek moyangnya, ia sangat menaruh simpati dan memperlihatkan cinta yang sangat mendalam kepada keponakannya, Muhammad SAW. Ia menyadari sepenuhnya kesulitan yang akan dialami bersama keluarganya akibat pembelaan yang diberikannya kepada Nabi Muhammad SAW. Kecintaan dan perlindungan yang diberikan Abu Thalib kepada Nabi Muhammad SAW, dalam menghadapi berbagai macam gangguan, menjamin keleluasaan beliau SAW dalam menjalankan tugas menyampaikan risalah Ilahi<br />
Abu Thalib termasuk tokoh yang sangat berpengaruh dikota Mekkah. Ia dihormati oleh kaum kerabatnya dan dihormati serta disegani pula oleh orang lain. Tidak ada seorang pun yang berani mengganggu orang yang berada di bawah perlindungannya, atau berani meremehkan jaminan keselamatan yang diberikan oleh Abu Thalib.<br />
Sedangkan Abu Lahab adalah seorang yang mencerminkan konsekwensi para kepala kabilah yang secara mati-matian mempertahankan kepentingan dan popularitas, tanpa memperdulikan kebenaran dan kebathilan. Apa saja yang dianggap akan merusak kepentingan mereka, atau menjelekan nama baik mereka, serta membangkitkan emosi mereka, akan mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang sangat tercela.<br />
Abu Lahab adalah seorang paman Rasulullah SAW. Nama lengkapnya Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Nama panggilannya Abu Utaibah. Dinamakan Abu Lahab karena wajahnya yang sangat bercahaya. Dia adalah orang yang paling banyak menyakiti Nabi Muhammad Saw. dan sangat membencinya, menghina dan meremehkannya,dan meremehkan agamanya.<br />
Tabiat bengis yang ada pada diri Abu Lahab selalu mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang rendah. Dua orang anak lelakinya menikah dengan dua orang putri Muhammad SAW, tetapi Abu Lahab memaksa kedua orang anaknya untuk menceraikan istrinya masing-masing. Utbah menceraikan Ruqayyah dan Utaibah menceraikan Ummu Kaltsum.<br />
Besar kemungkinan Abu Lahab terpengaruh oleh kebencian istrinya, Ummu Jamil. Adapun namanya adalah Area bintu Harb bin Umayyah, saudari Abu Sufyan.  Dia memberi bantuan kepada suaminya dalam hal melakukan kekufuran dan pembangkangan. Itulah sebabnya dihari kiamat nanti dia pun akan memberikan bantuan kepada suaminya ketika dia disiksa didalam api neraka Jahannam. Itulah sebabnya Allah SWT berfirman,”Pembawa kayu bakar, yang lehernya ada tali dari sabut.”<br />
Diriwayatkan oleh Sa’id bin Musayyab bahwa dia adalah seorang wanita yang mempunyai kalung yang sangat mahal dilehernya. Kemudian dia berkata, “Aku akan mendermakan kalung ini untuk melancarkan permusuhan kepada Muhammad!” Dengan demikian, Allah pun akan memberikan siksaan kepadanya didalam neraka nanti dengan tali dari sabut. Sebagian ulama menafsirkan tentang ayat, “Yang di lehernya terdapat tali sabut,”  bahwasanya di neraka Jahannam Allah akan mengalungkan di lehernya sebuah tali dari api yang akan mengangkatnya sampai ke bibir neraka, kemudian dilemparkan ke dasar neraka. Dan demikianlah seterusnya.<br />
Ummul Jamil adalah seorang wanita yang berlidah tajam. Sehingga Ummul Jamil melancarkan berbagai macam celaan terhadap pribadi Nabi Muhammad Saw dan tidak segan-segan mengobral segala macam omongan untuk mendustakan dan menjatuhkan nama baik Nabi Muhammad Saw. Diantara finah yang dilakukan Ummu Jamil kepada Nabi Saw ialah ketika Ummu Jamil mendengar bunyi surah Masad (Surah al-Lahab)  yang dibaca oleh seorang sahabat Nabi Saw. Seketika itu juga dia merasa bahwa dirinya dicaci maki dan dihinakan oleh bunyi ayat-ayat yang dibawa oleh Nabi Saw. Karena itu, dia melaporkan hal itu kepada saudara laki-lakinya (Abu Sufyan). Ummu Jamil berkata bahwa Nabi Muhammad Saw telah mencaci maki dan mengata-ngatai dirinya dengan perkataan jelek dan keji. Kemudian Abu Sufyan segera pulang kerumahnya untuk mengambil pedang, dengan pedang yang terhunus Abu Sufyan datang kerumah Nabi Saw dengan niat untuk membunuh Nabi, akan tetapi masih ditengah perjalanan, sekonyong-konyongnya Abu Sufyan ketakutan karena  seolah-olah dia melihat ular yang besar mendekati dan ingin menelan dirinya, sehingga dia kembali kerumahnya dengan tergesa-gesa. Dengan demikian, selamatlah Nabi Saw. dari penganiayaan Abu Sufyan karena fitnah dari Ummul Jamil yang jahat itu.<br />
 III. KESIMPULAN<br />
Dalam kekeluargaan sejak zaman sebelum islam, hubungan Nabi Muhammad SAW sebelum menjadi Rasul amat baik sekali dengan paman-pamannya termasuk Abu Lahab. Akan tetapi ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi utusan Allah, maka disinilah badai menerpa jantung rumah tangga karena ada yang menerima dan menentang dakwah Rasullah SAW.</p>
	<p>REFERENSI<br />
 Al-Ghazaly, Muhammad, Fiqhus Suroh, Bandung: PT. ALMA”ARIF, Cet.II<br />
 Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurrahman, Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung Muhammad, Jakarta: Darul Haq, Cet.IX, Maret 2007.<br />
Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurrahman, Sirah nabawiyah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet. XIII, Januari 2003.<br />
Bahjat, Ahmad, Sejarah Nabi-Nabi Allah, Jakarta: PT. LENTERA BASRITAMA, Cet.I, Oktober 2001.<br />
K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jakarta: Gema Insani Press, Cet.I, Jil.I, Agustus 2001.<br />
Ramadhan Al-Buthy, Muhammad Said, Sirah Nabawiyah, Jakarta: Robbani Press, Cet.XIII, Maret 2008.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Rasyad Hermawan</title>
		<link>http://catatanhati.blogsome.com/2005/03/28/siroh-nabawiyah/#comment-129</link>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 09:56:31 +0100</pubDate>
		<guid>http://catatanhati.blogsome.com/2005/03/28/siroh-nabawiyah/#comment-129</guid>
					<description>Assalamu'alaikum Wr. Wb wahai saudaraku seiman dalam Islam bangunlah dari tidurmu hari hisab semakin dekat dan penghisaban Alloh maha dahsyat dapatkah kita menghindarinya? maka mari sama - sama kita jaga lisan, pendengaran, pandangan serta langkah kaki kita mau kemana kita bawa?
</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Assalamu&#8217;alaikum Wr. Wb wahai saudaraku seiman dalam Islam bangunlah dari tidurmu hari hisab semakin dekat dan penghisaban Alloh maha dahsyat dapatkah kita menghindarinya? maka mari sama - sama kita jaga lisan, pendengaran, pandangan serta langkah kaki kita mau kemana kita bawa?
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: adian</title>
		<link>http://catatanhati.blogsome.com/2005/03/28/siroh-nabawiyah/#comment-84</link>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 08:38:55 +0000</pubDate>
		<guid>http://catatanhati.blogsome.com/2005/03/28/siroh-nabawiyah/#comment-84</guid>
					<description>assalamualaikum. tolong kasih tau dong, buku atau apalah yang bisa menjelaskan panjang lebar dan sejelas-jelasnya tentang sirah nabawiyah, tidak hanya tentang riwayat hidup nabi tp juga cara pemerintahannya juga yang lain. saya tertarik untk mempelajarinya. terimakasih
</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>assalamualaikum. tolong kasih tau dong, buku atau apalah yang bisa menjelaskan panjang lebar dan sejelas-jelasnya tentang sirah nabawiyah, tidak hanya tentang riwayat hidup nabi tp juga cara pemerintahannya juga yang lain. saya tertarik untk mempelajarinya. terimakasih
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
