Usianya -mungkin, saya tidak tahu tepatnya - 13 tahun. Setiap bertemu dengannya aku selalu terpana. Dia ramah, biarpun kami tidak saling kenal, senyum dibibirnya selalu tersungging. Putih, sangat cantik, sekelas dengan model-model indo, -belakangan saya tahu- dia keturunan Arab-Jerman. Ayahnya Arab dan Ibunya berdarah Jerman. Namun bukan kecantikannya yang menarik perhatian saya. Selembar kain yang rapi selalu menutupi kepala. Itu titik yang menjadi perhatian saya.

Rasa penasaran saya untuk berkenalan lebih lanjut dengannya semakin besar. Sungguh, sebagai remaja putri, yang lahir dan besar di negara Hittler ini, penampilannya amat luar biasa. Dia terlihat anggun dengan jilbabnya. Jilbab yang dia gunakan dibuat sedemikian indah dan modis, tapi bukan jilbab gaul, jilbabnya tetap menutupi dadanya akan tetapi digunakan dengan cara yang menurut saya modis.

Tetangga saya, yang dari Tunisia, ternyata mengenalnya. Jadilah saya, alhamdulillah, bisa berkenalan lebih jauh, bahkan sempat berkunjung ke rumahnya. Saya percaya perkenalan saya dengannya bukanlah suatu kebetulan. Bagi saya yang memiliki anak perempuan, dan siapa tahu kelak harus membesarkannya di sini, Sarah menjadi salah satu referens dalam mendidik anak saya.

Di saat remaja putri seusianya asyik tertawa kakak kikik dengan pasangan jenis, berpelukan atau bahkan lebih jauh lagi, dia sungguh bisa menjaga pergaulannya. Di saat remaja putri seusianya, sibuk berdandan dengan pakaian seminim mungkin, dia bisa menjaga kehormatan dan harga dirinya. Di saat remaja putri lainnya, bangga memamerkan tubuh mereka, Sarah justru bisa istiqomah menutup auratnya.

Akhlaknya yang karimah, ibadahnya selalu dia jaga. Waktu sholat selalu dia usahakan tepat waktu. Bayangkan, di tengah lingkungan yang jauh dari nilai ibadah. Ketika semua maksiat justru bertebaran dimana-mana. Membayangkan membesarkan anak di negara ini pun sudah membuat saya merinding, terbayang tantangan yang kelak harus saya hadapi. :(

Saya sangat sadar betapa besar godaan dan cobaan yang dihadapinya. Tidak jarang saya dengar dia diolok-olok teman sekolahnya. Betapa kampungan dia dengan busananya, betapa anehnya dia. Alhamdulillah Sarah tetap istiqomah. Penasaran saya apa yang membuat dia sedemikian istiqomah.

Sarah dibesarkan oleh keluarga dari pihak Ayah. Ibunya meninggal ketika ia masih kecil. Sedang sang Ayah terpaksa harus kembali ke negara asalnya. Sejak kecil dia sudah terbiasa melihat keluarga sang Paman memegang teguh ajaran Islam. Entah kenapa, kehidupan masa kecilnya sangat membekas dalam hati dan kepalanya. Mungkin memang kehanifan sudah melekat padanya. Lingkungan keluarga sang Paman inilah yang mengajarkan Sarah banyak hal tentang Islam juga keindahannya.

Bukan berupa paksaan tapi justru contoh dan teladan. Melalu dialog ketika terdapat pertentangan. Saya yakin kekuatan doa juga senjata di sana.

Rasa sedih ditinggal kedua orangtuanya membuatnya mencari yang lebih hakiki, ketika keluarga pihak Ayah mengenalkan cinta yang sejati. Cinta kepada Sang Pemilik Jiwa, Pemilik Kehidupan ini. Ketika semua sedih, semua keluh-kesah, semua resah hendaknya hanya ditujukan padaNya. Kesedihan yang dialaminya sejak kecil, juga membentuk dirinya menjadi pribadi yang keras dan teguh. Mencoba untuk tidak bergantung pada orang lain.

Sarah juga pandai. Menguasai 4 bahasa dengan fasih, Arab, Inggris, Prancis, dan Jerman. Sungguh, sosoknya mengagumkan dan tampak begitu percaya diri dengan ‘perbedaan’ nya.

Mendidik dan membesarkan anak merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Tapi melihat Sarah, saya menjadi berbesar hati. Allah akan menolong Insya Allah.