Pagi hari kami dikejutkan dengan air yang tidak mengalir, alias mati. Siapa yang tidak panik. Di sini semuanya serba jelas. Artinya kalaupun saluran air akan dimatikan dari pusat, pasti ada pemberitahuan jauh-jauh hari sebelumnya. Minimal 2 hari sebelumnya.

Yang membuat lebih panik sebenarnya karena kami sama sekali tidak ada persediaan air, baik di kamar mandi maupun dapur. Sistem kamar mandi kering, menyebabkan memang di kamar mandi sama sekali tidak persediaan air. Tidak ada bak mandi. Di dapur juga tidak ada penampungan air. Air minum biasanya langsung dari keran atau kami membeli air mineral. :(

Wah panik…semua kegiatan pagi hari jadi heboh dan hektik. Alhamdulillah masih ada sedikit air mineral. Jadilah kami gunakan seirit mungkin untuk berwudlu. Terasa sekali nilai air saat itu sangat berharga dan betul-betul kami hemat.

Akhirnya diketahui juga penyebabnya, pipa air di depan gedung tempat tinggal bocor. Butuh waktu cukup lama untuk memperbaikinya. Tapi setidaknya tidak sampai seharian. Maksimal sampai siang hari kami tidak punya air. Untuk air minum, ada mobil pemasok khusus.

Saya jadi teringat masa-masa KKN dulu ketika kuliah. KKN di salah satu desa di Jonggol. Belum ada listrik, MCK masih minim sekali. Selama sebulan lebih saya merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa listrik, air minum yang keruh dan coklat, menyeterika dengan arang. Lucunya, ketika seorang teman berkunjung dan membawa air mineral, kami peserta KKN didesa yang sama merasa justru air mineral itu aneh rasanya. Saking terbiasanya kami dengan air minum rasa tanah. :)

Kenangan yang manis. Mengingatkan tentang perjuangan hidup. Sungguh, kala itu saya tidak mengeluh. Saya menikmati, karena disatu sisi saya tahu saya tidak terjebak selama di situ. Kondisi itu hanya sementara buat saya.

KKN yang mengubah keseharian saya. Betapa ucapan syukur selalu terucap sepulang darinya. Mandi dirasakan kemewahan yang sulit didapat. Menyetrika yang tadinya berat, terasa sungguh ringan, dibandingkan dengan setrika arang. Syukur syukur dan syukur dengan semua nikmat yang lebih terasa bermakna. Duh…malunya…kenapa harus dicabut dulu sementara nikmat itu baru tersadari.. :(

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, ” (Al Maarij 19 -21)

Kejutan pagi hari itu mengingatkan saya kembali untuk tidak mubazir dalam keseharian, tidak hanya dalam hal penggunaan air. Walau kadang kondisi ynag serba berlebih di sini suka melenakan. Harusnya membuat saya bersyukur dan bukannya menghamburkan tanpa suatu keperluan, sesuatu yang akhirnya mubazir. Harusnya membuat saya lebih semangat berbagi nikmat yang sudah diberikan Allah buat saya.

Astaghfirullah al ‘adhiem. Duh semoga saya tidak lupa azzam saya itu. Sehingga tidak perlu diingatkan lagi dengan cara yang tidak mengenakkan. :(