Meine GedankenMarch 18, 2005 2:55 am

Ternyata menuangkan semuanya dalam bentuk tulisan…yang bisa menggambarkan suasana hati sungguh tidak mudah..

Tulisan yang dapat membuat kita berbagi hikmah, berbagi pelajaran, berbagi pengalaman yang diperoleh.

Kegundahan itu, sungguh sulit tuk dituliskan dengan kata-kata. Mengapa kegundahan hadir, adakah sesuatu yang salah. Tentu ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Hati. Kegundahan selalu berhubungan dengan hati. Hati yang tidak tenang. Mengidentifikasikan sesungguhnya telah terjadi suatu ketimpangan. Ya Allah…apa yang salah?? Dimana??? …baca lengkapnya…

Meine GedankenJanuary 30, 2005 5:48 am

Ketika saya belum menikah, menjadi seorang ibu adalah tidak pernah terbayangkan. bukan berarti saya tidak ada keinginan untuk menjadi seorang ibu. Justru karena saya merasa betapa kompleks dan sulitnya hal tersebut. Saya membaca buku-buku psikologi anak dan menyadari betapa sikap dan langkah orangtua teramat sangat membentuk jiwa sang anak. Saya ragu apakah saya mampu. Saya takut. Takut tidak mampu mengemban tanggungjawab besar itu.

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi.” (HR. Bukhari)

Ada pepatah Jerman yang juga mengatakan Eltern werden ist einfach, Eltern zu sein ist schwierig. menjadi orangtua adalah mudah, tapi berperan sebagai orangtua adalah lebih sulit. duh makin takut saya jadinya. …baca lengkapnya…

Meine GedankenDecember 14, 2004 12:47 am

Kata itu terlontar spontan dari suamiku. Komentar saat aku hanya adem ayem menanggapi kata-katanya yang mesra di sela kesibukanku.

Ketika masih lajang aku selalu menyukai semua hal yang berbau romantis. Semuanya, bacaan ataupun tontonan yang romantis selalu dengan penuh semangat kunikmati. Bahkan aku bisa menghabiskan waktu dengan tidak tidur hanya untuk menyelesaikan satu buku tebal, yang menurutku sangat romantis isinya. Sayang kalau terpotong, selain tentunya rasa penasaran akan ending-nya.

Bayangan memiliki suami yang romantis pun lekat di benak. Dia harus begini. Dia akan begitu, dia akan begini. Semua mimpi itu. Mimpiku akan sosok Sang Pangeran. Sekarang, mengenangnya aku jadi malu. Aku merasa konyol ketika mengingat betapa menggebu dan hausnya aku akan sebentuk keromantisan. Betapa tidak pada tempatnya untuk menikmati suatu keromantisan yang tidak semestinya. Betapa seringkali aku menjadi tidak membumi dengan semua keromantisan itu. …baca lengkapnya…

Meine GedankenMarch 24, 2003 12:43 am

Terkulai lemas, demam dan mukanya merah karena panas yang lebih dari 40 derajat, sungguh memilukan melihatnya. Anakku dalam kondisi begitu, yang tadinya lincah, cerewet, tiba-tiba diam kuyuh dan hanya tergeletak tidur. Putriku, betapa ingin aku yang tergeletak di situ menggantikanmu. Sakit yang paling berat yang dialaminya selama 1,5 tahun usianya.

Normalnya dia akan meringis usil atau berlari dan lincah menarik perhatian. Pas dengan usianya yang memang sedang caper-capernya. Bidadari kecilku itu. Yang membayangkannya saja atau bercerita tentangnya saja cukup membuat dadaku terbuncah oleh rasa sayangku. Tapi jangan dianggap aku tidak pernah dibuat jengkel olehnya. Usia 1,5 tahun yang sudah bukan ‘bayi’ lagi, identik dengan banyaknya keinginan, yang terkadang tidak mau ngerti dengan argumen yang kita berikan. Ngotot, teriak, dan nangis jika apa yang dia maui tidak terpenuhi. Singkatnya sih bikin senewen. Ya itu … bidadari kecilku itu. Putriku satu-satunya. …baca lengkapnya…