SharingMay 22, 2005 8:55 pm

Pagi hari kami dikejutkan dengan air yang tidak mengalir, alias mati. Siapa yang tidak panik. Di sini semuanya serba jelas. Artinya kalaupun saluran air akan dimatikan dari pusat, pasti ada pemberitahuan jauh-jauh hari sebelumnya. Minimal 2 hari sebelumnya. …baca lengkapnya…

SharingMay 13, 2005 8:11 pm

Usianya -mungkin, saya tidak tahu tepatnya - 13 tahun. Setiap bertemu dengannya aku selalu terpana. Dia ramah, biarpun kami tidak saling kenal, senyum dibibirnya selalu tersungging. Putih, sangat cantik, sekelas dengan model-model indo, -belakangan saya tahu- dia keturunan Arab-Jerman. Ayahnya Arab dan Ibunya berdarah Jerman. Namun bukan kecantikannya yang menarik perhatian saya. Selembar kain yang rapi selalu menutupi kepala. Itu titik yang menjadi perhatian saya. …baca lengkapnya…

SharingMarch 1, 2005 12:54 pm

dari Milist Forkom

Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy (Ibnu
Qudamah)

_____

Pengantar:
Duhai betapa beruntung pembaca e-mail ini dan betapa rugi penulisnya. Antum mendapatkan air jernih darinya sementara penulisnya mendapat air keruh. Tapi inilah perdagangan yang saya tawarkan. Bila hati pembaca lebih bersih maka itulah yang diharapkan, dengan tanpa terkotorinya hati penulis tentunya.

Bila yang terjadi adalah sebaliknya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tempat meminta pertolongan, dan segala kebaikan yang ada berasal dari Allah Yang Maha Tunggal semata.

____________ …baca lengkapnya…

SharingFebruary 16, 2005 1:52 am

Siang itu dalam kereta tujuan Freiburg*. Di dalam gerbong kereta, anak laki-laki 3 tahun itu tampak begitu resah, tak sabar, ingin segera sampai di tujuan. Sesekali melirik ibunya di samping, yang tampaknya sadar kegelisahan si kecil. Berkali-kali pertanyaan kapan tiba di tujuan selalu ditanyakan.

‘Mama, mama bawa biskuit gak?’ Sang Mama mengangguk singkat
‘ Biskuit yang mana Mama?’ desaknya lagi
‘ Yang ada coklat dan kacangnya’.
‘Nanti yah…sekalian kalau sudah sampai. Sebentar lagi kok’ tambah sang Mama
Si kecil mengangguk.

‘ Mama?’ kata anak itu kembali
‘yah? kali ini ada sedikit nada tidak sabar di suaranya
‘ Mam, ich habe dich sehr lieb!(aku sangat mencintaimu Mama!)’ senyumnya mengembang. Ibunya tersenyum mengangguk. …baca lengkapnya…

SharingAugust 1, 2003 12:30 am

Bimbang dan ragu terkadang datang menghampiri kita makhluk-Nya. Menandakan betul betapa lemah dan rapuhnya kita. Untuk mengambil keputusan sekecil apapun, bersitan rasa ragu hadir. Ragu dan bimbang ketika dihadapkan pada dua atau banyak pilihan. Entah akhirnya menjadi besar atau kemudian sirna.

Banyak muslimah yang ketika saat untuk memilih pasangan hidup tiba menjadi ragu-ragu dan bimbang. Begitu halnya dengan saya dulu. Aduh, betul tidak pilihan saya? Kata jangan-jangan masih terekam di benak. Gelisah…. bingung…. gimana enaknya ya. Menerima yang satu dan menolak yang lain tanpa alasan syar’i kadang menimbulkan perasaan berdosa. Wajar tidak ya?

Kebebasan untuk memilih calon pasangan itu bukan saja pada laki-laki, namun kita muslimah juga punya hak untuk memilih dan juga hak untuk menolak, meski alasannya misal hanya masalah tampang yang kurang menarik. Hal itu dibenarkan dan ada dasarnya dari sumber hadits yang terpercaya, misalnya hadits berikut ini:

Dari Ibnu Abbas ra berkata bahwa Jamilah binti Salul mendatangi Nabi Saw dan berkata, “Demi Allah, aku tidak mencela Tsabit (suaminya) dalam masalah agama dan akhlaqnya. Namun aku membenci kekufuran dalam Islam.” Maka Rasulullah Saw berkata, “Apakah kamu siapa untuk mengembalikan kebun kepada suamimu?”. Dia menjawab, “Ya”. Maka beliau memerintahkan Tsabit untuk mengambil kebun Jamilah tanpa tambahan”. (HR Ibnu Majah). Dalam riwayat Tabari dijelaskan bahwa yang menjadi alasan Jailah untuk minta cerai dari suaminya itu adalah karena suaminya (Tsabit bin Qais) kulitnya hitam legam, pendek dan mukanya jelek. …baca lengkapnya…